Rabu, 03 Desember 2014

resensi : STUDI ISLAM DARI WAKTU KE WAKTU


STUDI ISLAM DARI WAKTU KE WAKTU

Judul Buku      : Studi Islam Kontemporer
Penulis             : M. Rikza Chamami, M.SI
Penerbit           : Pustaka Rizki Putra
Tahun              : cetakan 1, Desember 2012
Tebal               : 228 halaman
Harga              : Rp 25. 000, 00
Peresensi         : Dina Fitriyani


Islam sebagai agama yang diproduk oleh Tuhan tidak mungkin untuk diketahui eksistensi riilnya tanpa keberanian untuk mencarinya. Mencari otentitas Islam itulah dibutuhkan keberaniandengan pendekatan studi agama. Adapun salah satu pendekatan yang mampu membedah wujud Islam adalah dengan fenomenologi. Secara etimologis, fenomenologi berasal dari kata fenomen yang artinya gejala, yaitu suatu hal yang tidak nyata dan semua. Juga dapat diartikan sebagai ungkapan kejadian yang dapat diamati  lewat indera.
Melalui buku Studi Islam Kontemporer ini, penulis berusaha untuk menjelaskan tentang beberapa kajian agama yang di bahas melalui studi sejarah, fenomenologi, budaya, pendidikan dan korelasi-korelasinya dengan tokoh dunia. Buku ini berusaha memaparkan perjalanan Islam dalam mengarungi kejayaan lahirnya peradaban maju yangh ditandai dengan berkembangnya aspek ilmu pengetahuan pada masa dinasti Abbasiyah sampai pada kondisi kemunduran islam masa kini.
Secara garis besar buku ini mengingatkan kembali secara nyata bagaimana umat Islam harus sadar dan bangkit dengan melakukan studi kontemporer sesuai perkembangan di era sekarang ini. Buku ini berusaha merefleksikan bahwa umat islam dulu pernah punya apa yang namanya kejayaan. Dan karya ini bisa membangkitkan semangat keilmuan bagi para pembaca untuk terus mengembangkan intelektualnya.
Buku ini disajikan dengan bahasa ilmiah yang lugas. Buku ini layak dibaca oleh para guru pendidikan Agama, mahasiswa yang mengambil Studi Islam maupun umum, bahkan layak dibaca oleh  pemerhati dunia pendidikan Agama. Buku ini mengajak pembacanya untuk flash back pada masa kejayaan Islam zaman dulu, sebab di dalamnya banyak memberi informasi tentang studi Islam sejak zaman dahulu hingga sekarang mulai dari sudut pandang Islam yang beragam, baik baik historis, filosofis, normatif dan rasionalis.
Akan tetapi, suatu karya tidak  mungkin terlepas dari kekurangan atau kelemahan di dalamnya. Dalam buku ini, bahasa ilmiah yang digunakan penulis selain memberikan nilai plus juga mengandung nilai minus. Hal tersebut dikarenakan kebahasaan yang terlalu rumit menjadikan pembaca sedikit kesulitan dalam memahami apalagi bagi masyarakat awam akan menjadikan kelinglungan bahasa. Walaupun begitu, para penikmat tulisan tidak perlu ragu untuk membaca karya hebat penulis muda ini, karena banyak sekali khazanah atau pengetahuan baru tentang Islam yang dapat dipelajari dan dikaji.


Selasa, 04 November 2014

JURNAL ILMIAH


IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN SIKLUS BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA MI
DINA FITRIYANI  (123911042)
Mahasiswi PGMI 5B
FAKULTAS ILMU TARBIAH DAN KEGURUAN
UIN WALISONGO SEMARANG

Abstrak : “Learning cycle is one model of learning with a constructivist approach. Learning Cycle or abbreviated LC is a model student-centered learning”. Siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan kontruktivis yang pada mulanya terdiri atas tiga tahap, yaitu: eksplorasi (exploration),  pengenalan konsep (concept introduction), dan penerapan konsep (consept application). Yang kemudian dikembangkan menjadi lima tahap (Lorsbach, 2002 dalam Wena, 2011:171) yang terdiri atas tahap pembangkitan minat (engagement), eksplorasi (exploration), penjelasan (exploration), elaborasi (elaboration/extention), dan evaluasi (evaluation).
Kata Kunci: model pembelajaran siklus belajar, learning cycle, model pembelajaran kontruktivis.

PENDAHULUAN
Dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, guru akan menemukan berbagai permasalahan, baik permasalahan siswa, permasalahan metodologis, permasalahan akademis maupun permasalahan non akademis lainnya. Semua permasalahan tersebut tentunya berimplikasi langsung maupun tidak langsung terhadap pencapaian hasil pembelajaran. Semua permasalahan harus dianggapan sebagai tantangan seorang guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk mempunyai beberapa kiat ataupun strategi dalam menghadapi permasalahan.
Dilihat dari perilaku belajar siswa, juga akan ditemukan berbagai permasalahan. Misalnya ada siswa yang lambat memahami isi pembelajaran, ada siswa yang tidak bisa bekerja secara kelompok, ada siswa yang tidak mampu membuat kesimpulan terhadap permasalahan, dan berbagai permasalahan-permasalahan lainnya. Oleh karena berbagai masalah tersebut, maka dibutuhkan suatu strategi berupa model-model pembelajaran untuk menanggulangi permasalahan yang ada.
Model pembelajaran siklus belajar merupakan pembelajaran yang berbasis active learning yang berorientasi pada pendekatan kontruktivis, semoga bisa menjadi alternatif pembelajaran untuk memudahkan guru dan siswa dalam menghadapi permasalahan-permasalahan pendidikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Learning cycle is one model of learning with a constructivist approach. Learning Cycle or abbreviated LC is a model student-centered learning.” Siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis. Learning Cycle atau disingkat LC adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Model pembelajaran siklus pertama kali diperkenalkan oleh Robert Karplus dalam Science Curriculum Improvement Study/SCIS (Trowbridge dan Bybee dalam Wena, 2011:170).[1] Learning Cycle merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif.
Siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan kontruktivis yang pada mulanya terdiri atas tiga tahap, yaitu: eksplorasi (exploration),  pengenalan konsep (concept introduction), dan penerapan konsep (consept application).[2]
Pada proses selanjutnya, tiga tahap siklus (eksplolasi, pengenalan konsep, dan penerapan) tersebut mengalami pengembangan. Tiga siklus tersebut menjadi lima tahap (Lorsbach, 2002 dalam Wena, 2011:171) yang terdiri atas tahap pembangkitan minat (engagement), eksplorasi (exploration), penjelasan (exploration), elaborasi (elaboration/extention), dan evaluasi (evaluation).[3]
a.         Pembangkitan Minat (engagement)
Tahap pembangkitan minat merupakan tahap awal dari siklus belajar. Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dan keingintahuan (curiosity) siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual tentang kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik bahasan).
b.        Eksplorasi (exploration)
Eksplorasi merupakan tahap kedua model siklus belajar. Pada tahap eksplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4 siswa, kemudian diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis dan atau membuat hipotesis baru, mencoba alternatif pemecahannya dengan teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi.
c.         Penjelasan (explanation)
Penjelasan merupakan siklus ketiga siklus belajar. Pada tahap penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat/ pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antarsiswa atau guru. Dengan adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.
d.        Elaborasi (elaboration/extention)
Elaborasi merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap elaborasi siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbea. Dengan demikian, siswa akan belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan/ mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru. Jika tahap ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka motivasi belajar siswa akan meningkat. Meningkatnya motivasi belajar siswa tentu dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa.
e.         Evaluasi (evaluation)
Evaluasi merupakan tahap akhir dalam siklus belajar. Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengerahuan atau pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya.
Berdasarkan tahapan dalam model pembelajaran siklus belajar, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk menggali, menganalisis, mengevaluasi pemahamannya terhadap konsep yang dipelajari. Terlebih dalam pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah, siswa diharapkan mampu berperan aktif selama proses pembelajaran berlangsung, supaya materi yang disampaikan dapat terserap dengan baik dan optimal.
Perbedaan mendasar antara model pembelajaran siklus belajar dengan pembelajaran konvensional adalah guru lebih banyak bertanya daripada memberi tahu. Misalnya, pada waktu akan melakukan eksperimen terhadap suatu permasalahan, guru tidak memberi petunjuk langkah-langkah yang harus dilakukan siswa, tetapi guru mengajukan pertanyaan penuntun tentang apa yang akan dilakukan siswa. Dengan demikian, kemampuan analisis, evaluatif, dan argumentatif siswa dapat berkembang dan meningkat secara signifikan.
Cohen dan Clough menyatakan bahwa LC merupakan strategi jitu bagi pembelajaran sains di sekolah menengah karena dapat dilakukan secara luwes dan memenuhi kebutuhan nyata guru dan siswa. Dilihat dari dimensi guru penerapan strategi ini memperluas wawasan dan meningkatkan kreatifitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Sedangkan ditinjau dari dimensi pebelajar, penerapan strategi ini memberi keuntungan sebagai berikut:
1.        Meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.
2.        Membantu mengembangkan sikap ilmiah pebelajar.
3.        Siswa mampu mengembangkan potensi individu yang berhasil dan berguna, kreatif, bertanggung jawab, mengaktualisasikan dan mengoptimalkan dirinya terhadap perubahan yang terjadi.
4.        Pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Adapun kekurangan penerapan strategi ini yang harus selalu diantisipasi diperkirakan sebagai berikut:
1.        Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran.
2.        Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
3.        Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.
4.        Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan melaksanakan pembelajaran.
5.        Sulit bagi siswa yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik.

KESIMPULAN DAN SARAN
Siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis. Learning Cycle atau disingkat LC adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Tahap-tahap pembelajaran siklus belajar terdiri dari tahap pembangkitan minat (engagement), eksplorasi (exploration), penjelasan (explanation), elaborasi (elaboration/extention), dan evaluasi (evaluation). Kelebihan dari model pembelajaran siklus belajar adalah dapat meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Sedangkan kelemahannya adalah terlalu banyak membutuhkan waktu dan tenaga.
Dari hasil telaah pustaka di atas, maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut : untuk dapat memperoleh hasil yang optimal melalui model pembelajaran siklus belajar, diperlukan guru yang kreatif dan peserta didik yang partisipatif agar kelas tidak terkesan monotone dan menyenangkan. Terlebih bagi guru yang mengajar untuk bisa mempersiapkan atau mengkondisikan peserta didik dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA

Astutik, Sri, Jurnal Ilmu Pendidikan Sekolah Dasar, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Jember: 2012
Wena, Made, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Bumi Aksara:2011



[1]   Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Bumi Aksara:2011). Hlm. 170
[2] Sri Astutik, Jurnal Ilmu Pendidikan Sekolah Dasar, (Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Jember: 2012). Hlm. 16
[3] Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Bumi Aksara:2011). Hlm. 171-172

Selasa, 14 Oktober 2014

Autobiografi (tugas KTI)


Sepenggal kisah pendidikanku
Nama saya Dina Fitriyani, biasa dipanggil Dina.  Saya  adalah seorang pemimpi muda yang selalu berusaha mewujudkan setiap mimpi-mimpinya melalui usaha tanpa putus asa. Lewat angan yang terus mengembang, dengan cita yang terus dikejar. Mimpi itu berkerumun menyertai setiap langkah yang tak pernah mengenal batas.
            Saya adalah putri sulung dari pasangan Bapak Khoironi dan Ibu Sumiyati yang lahir pada hari Minggu, 10 April 1994 di Dukuh Bergat Rt 02 Rw 07 Desa Gembong, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah.
Pada usia enam tahun, orang tua saya mempercayakan anak sulung mereka untuk mendapat pendidikan formal jenjang awal di SD N Bermi 01 Gembong, Pati. Diawal sekolah, saya merupakan siswi biasa yang masih mencari teman dan butuh bimbingan ekstra dari guru dan orang tua. Namun, setelah triwulan  pertama usai, prestasi saya mulai terlihat menonjol diantara teman-teman yang lain, oleh karena itu dari kelas 1 akhir sampai kelas 6 ia tak pernah luput jadi juara kelas dan diikutkan berbagai lomba.
Pada kelas 4 SD, tepat pada tanggal 25 Februari 2004, saya dianugrahi adik cantik bernama Fina Malikha. Meskipun pada awalnya saya menginginkan adik laki-laki, saya tetap menerima dan menyayangi adik perempuan saya yang semata wayang itu.
Setelah kelulusan dari sekolah dasar pada tahun 2006, saya melanjutkan ke SMP Islam Raudlatul Falah (biasa di singkat RF/Rafa) Bermi, Gembong, Pati. Sekolah tersebut dipilih selain ekonomis, juga karena orang saya tidak ingin anak sulungnya berhenti mengkaji ilmu agama. Jika melanjutnkan di SMP tersebut, maka saya masih bisa melanjutkan “Sekolah Sore” (sekolah agama yang dilakukan pada sore hari pada pukul 14:00-16:30) di yayasan yang sama setelah sekolah paginya (sekolah formal) usai. Di pertengahan semester 2 kelas 7, saya minta ke orangtua untuk dipondokkan. Dengan sedikit khawatir namun juga bahagia, orangtua saya mengizinkan dan menyowankan ke ndalem Bapak KH. Ahmad Djaelani Al Hafidz selaku pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Falah.
Di jenjang inilah saya mulai suka menulis, entah itu cerpen, puisi, maupun hanya sepenggal cerita di buku diary. Yang tak terlupakan yaitu ketika mendapat tugas bahasa Indonesia untuk menulis puisi, Guru saya menobatkan puisi saya sebagai puisi terbaik dan dibacakan oleh teman saya di depan kelas. Selain itu, ketika ada tugas membuat drama, saya yang menyeting cerita dan membuat naskahnya untuk diperankan di kelas bersama kelompok saya.
Di SMP, prestasi saya pun tak jauh berbeda dari sekolah dasar. Dari kelas tujuh sampai kelas sembilan, saya tak pernah luput dari juara kelas. Hal itulah yang mungkin membuat saya dikenal oleh kakak-kakak kelas. Hingga pada saat awal kelas 8, menurut penuturan sahabat, saya diusulkan menjadi salah satu kandidat ketua OSIS, namun sayang ketika rapat saya tak dapat hadir karena masih berlibur di Pulau Batam bersama saudara, sehingga gagal dicalonkan. Meskipun begitu, saya tetap dimasukkan  keorganisasian OSIS menjadi Seksi Pendidikan dan Kerohanian.
Setelah lulus dari SMP Islam RF pada tahun 2009, saya melanjutkan ke SMA di yayasan yang sama, yaitu SMA Islam Raudlatul Falah. Masa SMA merupakan masa yang indah bagi kebanyakan orang, tak terkecuali saya. Disini saya mulai membangun mimpi dan mencoba hal-hal baru. Di sekolah saya saat itu mempunyai 11 pengembangan diri (bangdir), yaitu bahtsul kutub, olahraga, tata busana, tata rias, tata boga, bahasa Inggris, qiro’ah, huffadz, otomotif, elektro, dan komputer. Setiap siswa diwajibkan memilih salah satu bangdir sesuai dengan minat mereka. Dan saya memilih bangdir bahasa Inggris karena saya tertarik untuk mempelajari bahasa dunia, siapa tahu suatu saat bisa melancong ke luar negeri. :D
 Memasuki kelas XI SMA, disini saatnya penjurusan. Di sekolah saya hanya ada dua jurusan, yaitu IPA dan IPS. Tanpa pikir panjang, saya langsung memilih masuk IPA, karena saya lebih suka menghitung daripada menghafal. Di jurusan IPA, matematikanya menantang dan lebih sulit dibanding matematika IPS, sehingga hal itu memicu saya untuk rajin belajar dan lebih memacu adrenalin melalui rumus dan angka-angka. Meskipun prestasi saya tak secemerlang ketika SD dan SMP, saya masih bisa bertahan menjadi salah satu siswi unggulan di sekolah, hal tersebut terbukti lewat didelegasikannya saya utuk mengikuti beberapa lomba, seperti olimpiade matematika dan fisika.
Akhir masa SMA merupakan masa yang penuh kegalauan. Karena setelah lulus saya harus memutuskan mau dibawa kemana ijazah saya, ke perguruan tinggi atau ke tempat lain untuk mencari pekerjaan. Dari diri sendiri sebenarnya masih ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan alhamdulillah orangtua selalu mendukung apapun yang terbaik buat saya.
Tahun 2012 saya dinyatakan lulus Ujian Nasional. Dan setelah gagal masuk di Universitas Swasta di Jakarta, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di IAIN Walisongo atas saran beberapa sahabat dan kerabat. Dan disinilah saya sekarang, menjadi mahasiswa di Prodi PGMI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
Pada awal kuliah, saya bertempat tinggal di Ma’had Walisongo atas asuhan KH. Fadholan Musyafa’, Lc. MA selama dua semester. Setelah itu, saya melanjutkan ngaji saya di Pondok Pesantren Al Hikmah Tugurejo Tugu Semarang.
Selama kuliah, saya pernah mengikuti lomba menulis puisi di internet dan mendapat juara pertama. Selain itu, say juga pernah berjualan pulsa, menjadi guru les, dan berjualan pakaian bersama sahabat saya. Hal tersebut saya lakukan untuk melatih mental dan belajar berwirausaha.

Kelebihan dan potensi
            Tak mudah menuliskan potensi dan kelebihan diri. Saya hanya mampu mengira-ngira tanpa tau kebenarannya. Setahu saya, saya suka menulis, meski hanya sebatas puisi, cerpen dan diary, mungkin hal itu merupakan salah satu potensi dan kelebihan saya. Untuk menopang kemampuan menulis saya, saya juga suka membaca buku, terlebih buku fiksi dan psikologi.
Selain itu, dari SMP saya selalu dijadikan tempat curhat bagi teman-teman saya, dan menurut mereka solusi yang saya tawarkan bisa diterima dan membatu menyelesaikan masalah. Saya juga suka bicara apa adanya, meskipun suka asal nyeplos dan berkomentar, perkataan saya jujur meski terkadang menyakitkan.
Saya merupakan tipikal orang yang tak pantang menyerah dan anti putus asa ketika menginginkan sesuatu. Jika saya sudah menentukan target, sebisa mungkin saya akan berusaha untuk mendapatkannya.

Cita-cita, harapan, serta usaha
Sejak kecil saya tertarik pada dunia pendidikan anak, dan suatu hari saya ingin mengabdikan hidup saya pada pendidikan anak. Saya ingin membuka rumah belajar bagi anak-anak jalanan maupun anak-anak kurang mampu. Saya ingin berbagi sehingga semua anak usia sekolah tak ada yang mengatung di jalanan maupun berdiam diri di rumah tanpa kegiatan.
Untuk mewujudkannya, saya tahu perihal tersebut bukanlah perkara yang mudah. Telebih dahulu saya harus menyukseskan diri saya sendiri baik dari segi pendidikan dan finansial. Karena itu, saya harus rajin belajar dan berusaha untuk berwirausaha agar cita-cita dan harapan tersebut tak hanya menjadi kata yang tanpa makna.
Pada intinya, saya ingin menjadi orang yang berharga dan berguna. Memberi sebelum diminta dan berbuat baik pada sesama.

Selasa, 30 September 2014

SEMANGAT KULIAH


SEMANGAT KULIAH

Semangat kuliah masyarakat Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya. Terbukti dari jumlah mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya pendidikan sudah semakin tinggi di kalangan masyarakat.
Di IAIN Walisongo, peningkatan jumlah mahasiswa baru dapat dilihat dari lonjakan pengunjung di perpustakaan kampus, terlebih di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Pada setiap harinya, perpustakaan selalu ramai dibanjiri mahasiswa untuk mencari referensi pembuatan tugas kuliah ataupun sekedar membaca menambah pengetahuan.
Selain itu, diadakannya kembali jam kuliah malam juga disinyalir karena kurangnya kapasitas jumlah ruang kelas untuk menampung banyaknya mahasiswa yang semakin meningkat.
Semoga dengan bertambahnya jumlah mahasiswa tiap tahunnya, bertambah pula semangat belajar para penerus bangsa sehinnga dapat menjadikan mutu pendidikan Indonesia semakin maju dan lebih baik di masa depan. 

MENCEGAH ISIS MELALUI IMPLEMENTASI ASAS PANCASILA


MENCEGAH ISIS MELALUI IMPLEMENTASI ASAS PANCASILA

Belakangan ini, sebuah kelompok militan Islam tengah ramai diberitakan diberbagai media dari berbagai negara. Islamic State (IS) atau yang dikenal juga dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merupakan sebuah militan jihad yang bergerak atas ekstrimisme agama yang menganut ideologi garis keras Al Qaidah. Misi awal terbentuknya ISIS adalah untuk berjuang dan melawan penjajahan Amerika Serikat di Irak dan Suriah. Hingga akhirnya mereka bergabung dengan Front An-Nusra, yang merupakan satu-satunya afiliasi Al-Qaidah di Suriah. Pada awalnya, ISIS mempunyai hubungan yang erat dengan Al-Qaidah. Sampai akhirnya metode ISIS dianggap mulai menyimpang dari misi perjuangan nasional dan tidak lagi diakui sebagai kelompok Al-Qaidah.
Abu Bakar Al-Baghdady adalah pemimpin ISIS yang mendeklarasikan diri sebagai khalifah baru bagi umat muslim yang akan memimpin Islam di seluruh dunia.  Pernyataan tersebut tentunya memperoleh penolakan dan kecaman dari banyak pihak, terutama tokoh-tokoh agama di berbagai negara. Selain itu metode jihad yang dilakukan oleh militan ISIS, seperti bom bunuh diri, penjarahan bank, hingga pembantaian dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam yang menjaga perdamaian. Hal tersebut telah menyalahi norma dan tidak berperi kemanusiaan.
Banyak kasus pembantaian yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ISIS di berbagai negara. Mereka tak pandang buluh dalam melancarkan aksinya. Siapapun yang tak sejalan dengan pemikiran mereka dianggap kafir yang halal darahnya untuk dibunuh.
Akhir-akhir ini, cabang-cabang Khilafah Islamiyah versi ISIS sudah mulai menyebar diberbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Solo, Jawa Timur dan sebagianya. Simpatisan ISIS pun mulai melakukan aksinya ke publik yang dikepalai oleh para mantan mukmin Iraq dan Syria. Hal itu memicu keresahan pada masyarakat.
Di langsir dari Forum Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (FU-MUI) pada tanggal 9 Agustus 2014, para ulama menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk tidak terhasut oleh agitasi dan provokasi ISIS yang berusaha untuk menjelmakan cita-cita ISIS, baik di Indonesia maupun di dunia. Kepada segenap organisasi/lembaga Islam, masjid/mushalla, dan keluarga Muslim untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan upaya menangkal berkembangnya gerakan ISIS di seluruh pelosok Tanah Air.
Pada dasarnya, ideologi ISIS memang tak sejalan dengan ideologi pancasila yang menjunjung tinggi kebhinneka tunggal ikaan. Indonesia bukanlah negara Islam meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Indonesia merupakan negara kesatuan yang menyatukan enam agama (Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katolik, dan Konghucu) dalam satu wadah perdamaian antar pemeluknya.
Kehadiran ISIS yang membawa ajaran radikalisme Islam memang sangat menghawatirkan bagi keutuhan NKRI. Pasalnya, tindakannya yang bertentangan dengan peri kemanusiaan ini memprovokasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan anartkis yang dapat menghancurkan bangsa yang berdalaut.
Bentuk tindakan prefentif terhadap agitasi militan ISIS yang dapat dilakukan warga Negara Republik Indonesia adalah dengan tetap mempertahankan keutuhan NKRI dengan menerapkan nilai-nilai falsafah pancasila yang menjunjung tinggi nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan perdamaian abadi.
Untuk itu Indonesia yang merupakan negara maritim dan rawan perpecahan perlu adanya kesadaran tentang semboyan negara yaitu bineka tunggal ika. Dan dasar negara Indonesia yaitu Pancasila.

Minggu, 27 April 2014

evaluasi program pendidikan





I.            PENDAHULUAN
Dalam manajemen, terdapat beberapa fungsi pokok. Fungsi evaluasi merupakan salah satu di antaranya. Kegiatan evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sesuatu apapun yang terprogram, tak terkecuali bagi program pembelajaran sabagai bagian dari program pendidikan dalam arti makro. Melakasanakan evaluasi terhadap program pendidikan merupakan tugas bagi seorang evaluator dalam manajemen sekolah, namun bukan berarti hanya evaluator saja yang harus memahami model-model evaluasi program pendidikan. Para pendidik dan calon pendidik serta praktisi lain yang berkecimpung di dalam program pendidikan perlu memahaminya.
Oleh karena itu, kami akan mencoba sedikit memaparkan tengatang evaluasi program pendidikan agar kita semua bisa memahami dan mempersiapkan diri pada suatu hari nanti.

II.         RUMUSAN MASALAH
A.    Apa Pengertian Evaluasi dan Evaluasi Program?
B.     Bagaimana Tujuan dan Fungsi Program?
C.     Bagaimana Ciri-ciri dan Persyaratan Evaluasi Program?
D.    Apa saja Objek atau Sasaran Evaluasi Program?
E.     Bagaimana Cara Melaksanakan Evaluasi Program?
F.      agaimana Menyusun Laporan Evaluasi Program?

III.      PEMBAHASAN
A.      Pengertian Evaluasi dan Evaluasi Program
Ada tiga istilah yang digunakan dan perlu disepakati pemakaiannya, sebelum disampaikan uraian lebih lanjut tentang evaluasi program, yaitu “evaluasi (evaluation)”, “pengukuran (measurement)”, “dan penilaian (assessment).
Evaluasi berasal dari kata evaluation (bahasa inggris). Kata tersebut diserap ke dalam perbendaharaan istilah bahasa Indonesia dengan tujuan mempertahankan kata aslinya dengan sedikit penyesuaian lafal Indonesia menjadi “evaluasi”. Istilah “penilaian” merupakan kata benda dari “nilai”. Pengertian “pengukuran” mengacu pada kegiatan membandingkan sesuatu hal dengan satuan ukuran tertentu, sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.[1]
Menurut pengertian secara umum, “program” dapat diartikan sebagai “rencana”. Jika seorang siswa ditanya oleh guru, apa programnya sudah lulus dalam menyelesaikan pendidikan disekolah yang diikuti maka arti “program” dalam kalimat tersebut adalah rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan setelah lulus. Rencana ini mungkin berupa keinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, mencari pekerjaan, membantu orang tua dalam membina usaha, atau mungkin belum menentukan program apapun.[2]
Definisi evaluasi program yang kami kutip dalam buku evaluasi program pendidikan yang dikemukakan oleh Ralph Tyler, mengatakan bahwa evaluasi program adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah dapat terealisasikan. Menurut Cronbach (1963) dan Sufflebeam (1971), mengemukakan bahwa evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan. Sehubungan dengan definisi tersebut Standford Evolution Consersium Group menegaskan bahwa evaluator menyediakan informasi, evaluator bukanlah pengambil keputusan tentang suatu program(Cronbach:1982).[3]
Adapun menurut Joint Committee On Standars For Educational Evaluation (1981:12) program evaluations that assess educational activities which provide service on a continuing basis and often involve curricular offerings. Evaluasi program merupakan evaluasi yang menilai aktifitas dibidang pendidikan dengan menyediakan data yang berkelanjutan. Dengan demikian evaluasi program merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja dan secara cermat untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan atau keberhasilan suatu program dengan cara mengetahui efektivitas masing-masing komponennya, baik terhadap program yang sedang berjalan maupun program yang telah berlalu.[4]

B.       Tujuan dan Fungsi Evaluasi Program
1.      Tujuan Evaluasi Program
Tujuan diadakannya evaluasi program adalah untuk mengetahui pencapaian tujuan program dengan langkah keterlaksanaan kegiatan program, karena evaluator program ingin mengetahui bagian mana dari komponen dan subkomponen program yang belum terlaksana dan apa sebabnya. Oleh karena itu, sebelum mulai dengan langkah evaluasi, evaluator perlu memperjelas dirinya dengan apa tujuan program yang akan dievaluasi.
2.      Fungsi Evaluasi Program
Dengan mengetahui makna evaluasi (penilaian) ditinjau dari beberapa segi dalam sisitem pendidikan, maka dengan cara lain dapat dikatakan  bahwa fungsi penilaian ada beberapa hal:
a.       Penilaian berfungsi selektif
Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya. Penilaian itu mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
1)      Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu,
2)      Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya,
3)      Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa,
4)      Untuk memilih siswa yang sudah paham dan berhak meninggalkan sekolah, dan sebagainya.
b.      Penilaian bernilai diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Jadi dengan mengaadakan penilaian, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya.
c.       Penilaian berfungsi sebagai penempatan
Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan di negara barat, adalah sistem belajar sendiri. belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul, atau paket belajar yang lain. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti dikelompok mana seorang siswa harus ditempatkan. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
d.      Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.[5]

C.      Ciri-ciri dan Persyaratan Evaluasi Program
Sejalan dengan pengertian yang terkandung di dalamnya, maka evaluasi memiliki ciri-ciri dan persyaratan sebagai berikut:
1.        Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari kaidah yang berlaku bagi penelitian pada umumnya.
2.        Peneliti harus berfikir secara sistematis, yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dari objek yang dievaluasi.
3.        Agar dapat mengetahui secara rinci kondisi dari objek yang dievaluasi, perlunya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai faktor penentu bagi keberhasilan program.
4.        Menggunakan standar, kriteria, atau tolak ukur sebagai perbandingan dalam menentukan kondisi nyata dari data yang diperoleh dan untuk mengambil kesimpulan.
5.        Dalam melakukan kegiatan evaluasi program peneliti harus berkiblat pada tujuan kegiatan sebagai standar, kriteria, atau tolak ukur.
6.        Agar informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata secara rinci untuk mengetahui bagian mana program yang belum terlaksana, maka perlu identifikasi komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi subkomponen, sampai pada indikator program yang dievaluasi.
7.        Standar, kriteria, atau tolak ukur diterapkan pada indikator, yaitu bagian yang paling kecil dari program agar dapat dengan cermat diketahui letak kelemahan dari proses kegiatan.
8.        Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.[6]

D.      Obyek atau Sasaran Evaluasi Program
Untuk dapat mengenal sasaran evaluasi secara cermat, kita perlu memusatkan perhatian pada aspek-aspek yang bersangkut-paut dengan keseluruhan kegiatan belajar-mengajar. Untuk itu ada baiknya kita mengenal kembali model transformasi proses pendidikan formal di sekolah. di dalam proses transformasi, siswa yang baru masuk mengikuti proses pendidikan dipandang sebagai bahan mentah yang akan diolah (ditransformasikan diubah dari bahan mentah menjadi bahan jadi) melalui proses pengajaran. Siswa yang baru masuk (input) ini memiliki karakteristik atau kekhususan sendiri-sendiri, yang banyak mempengaruhi keberhasilan dalam belajar. Disamping itu ada masukan lain yang juga berpengaruh dalam keberhasilam belajar siswa, yaitu masukan instrumental dan lingkungan. Yang dapat dimasukkan sebagai masukan instrumental adalah materi/kurikulum, guru, metode mengajar, dan sarana pendidikan (alat, bahan, dan media belajar). Siswa yang sudah dimasukkan ke dalam alat pemproses yaitu transformasi, dan sudah menjadi bahan jadi, dikenal dengan istilah hasil atau keluaran (output).

Lingkungan bukan manusia
Proses transformasi
Materi/ kurikulum
guru
Metode mengajar
Output
(keluaran)
Sarana (media/alat)
Input
(masukan
Lingkungan manusia
 





                                                                                                       

Gambar proses transformasi belajar mengajar.[7]

E.       Cara mencari Evaluasi Program
Apabila guru ingin melakukan evaluasi program dengan lebih seksama, misalnya ingin menelusuri secara khusus latar belakang keluarga siswa, terlebih dahulu harus menyusun evaluasi sekaligus instrument pengumpulan data. Mengenai bagaimana menyiapkan instrument untuk angket, pedoman wawancara, pedoman pengamatan, dan sebagainya, dapat dipelajari dari buku-buku penelitian. Sebagai cara yang paling sederhana adalah mengadakan pencatatan terhadap peristiwa  yang dialami dari kegiatan sehari-hari dikelas.
Deretan pertanyaan yang diajukan berpangkal dari komponen-komponen transformasi yang sudah kita ketahui dalam uraian diatas. berikut ini disampaikan beberapa contoh:
1)      Pertanyaan tentang siswa:
a)      Apakah kehadiran siswa sudah baik? Lengkap dan tepat waktu?
b)      Apakah siswa tertarik pada pelajaran kita? Jika tidak atau kurang apakah kira-kira sebabnya?
c)      Apakah siswa tidak enggan melibatkan diri dalam kegiatan belajar- mengajar ? dan sebagainya.
2)      Pertanyaan tentang guru:
a)      Apakah sebelum mengajar guru sudah menguasai meteri yang akan diajarkan dengan sebaik-baiknya?
b)      Apakah guru dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa?
c)      Apakah guru dapat berlaku adil terhadap siswa?
d)     Apakah guru sudah memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada siswa? Dan sebagainya.
3)      Pertanyaan tentang kurikulum:
a)      Seberapa tinggikah tingkat pemahaman guru terhadap materi yang tertera dalam GBPP?
b)      Apakah guru dapat menyajikan materi secara urut seperti urutan penyajian dalam GBPP?
c)      Apakah materi yang tertera dalam GBPP tidak terlalu sulit bagi siswa untuk kelas yang bersangkutan?
d)     Bagaimanakah kaitan materi dalam GBPP mata pelajaran satu dengan mata pelajaran yang lain? Dan sebagainya.
4)      Pertanyaan tentang sarana:
a)      Apakah pokok bahasan yang memerlukan alat peraga sudah dipenuhi kebutuhannya?
b)      Apakah alat peraga yang dipilih sudah tepat?
c)      Apakah guru sudah terampil menggunakan alat peraga?
d)     Apakah siswa sudah cukup dilibatkan dalam penggunaan alat peraga? Dan sebagainya.
5)      Pertanyaan tentang metode dan pendekatan:
a)      Apakah dengan metode yang digunakan, hasil belajar siswa sudah cukup tinggi?
b)      Apakah dengan metode yang dipilih ini siswa mengikuti pelajaran dengan bergairah?
c)      Dengan pengelompokan yang diambil, apakah semua siswa sudah terlibat dengan aktif?
d)     Apakah hasil tugas yang diselesaikan oleh siswa tidak terlihat bahwa satu dua orang siswa mendominasi kawannya dalam bekerja? Dan sebagainya.
6)      Pertanyaan tentang lingkungan manusia:
a)      Apakah guru sudah memanfaatkan orang-orang yang ada dilingkungan siswa untuk menunjang pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar?
b)      Adakah orang disekitar siswa yang mempunyai pengaruh kurang baik terhadap siswa? Andaikata ada,  apakah guru sudah mengambil langkah dengan tepat?
c)      Apakah guru sudah mengarahkan siswa untuk mencoba memanfaatkan orang-orang yang ada sebagai manusia sumber untuk menambah pengetahuannya? Dan sebagainya.
7)      Pertanyaan tentang lingkungan bukan manusia:
a)      Apakah guru sudah memanfaatkan dengan baik hal-hal yang ada dilingkungan siswa untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar?
b)      Apakah siswa sudah diarahkan untuk memanfaatkan lingkungan menurut kepentingan mereka sendiri? dan sebagainya.[8]

F.       Menyusun Laporan Evaluasi Program
Produk fisik sebuah evaluasi terlihat pada laporan tertulisnya. Laporan tertulis harus disusun oleh seorang atau tim evaluator, sehingga hasil evaluasinya dapat dipublikasikan dengan baik secara luas kepada orang atau pihak lain.
Setiap laporan evaluasi biasanya memuat empat hal pokok, yaitu:
1.        Permasalahan,
2.        Metodologi evaluasi,
3.        Hasil evaluasi, dan
4.        Kesimpulan atas hasil evaluasinya.[9]
Laporan evaluasi tak ubahnya seperti laporan penelitian, ada yang menggunakan pendekatan kuantitatif, dan ada yang menggunakan pendekatan kualitatif. Laporan evaluasi yang menggunakan pendekatan kuantitatif umumnya mempunyai susunan laporan yang relative tetap, biasanya terdiri atas lima atau enam bab, seperti berikut:
Bab I   : Pendahuluan
Bab II  : Pembahasan Kepustakaan
Bab III            : Metodologi Evaluasi
Bab IV            : Hasil Evaluasi
Bab V  : Pembahasan Hasil Evaluasi
Bab VI            : Kesimpulan dan Rekomendasi
Pada bab pendahuluan, biasanya terdapat subbab seperti:
1.        Latar Belakang Masalah
2.        Rumusan Masalah
3.        Tujuan Evaluasi
4.        Manfaat Evaluasi
5.        Batasan Konsep/istilah/ variabel evaluasi.
Pada bab Pembahasan Kepustakaan, subbabnya sangat bergantung pada jumlah topik atau masalah dan garis miring atau bangunan teori yang melandasi pelaksanaan evaluasi. Tujuannya untuk menunjukkan sejumlah konsep, teori, data, temuan-temuan yang bersangkut paut dengan masalah evaluasi sehingga masalah yang dievaluasi menjadi lebih jelas dan kedudukannya dalam kerangka khazanah pengetahuan/ kepustakaan terbukti sudah ada.
Pada bab Metodologi Evaluasi, subbabnya meliputi tipe/ pendekatan/ model evaluasi yang dilakukan, populasi dan sampel evaluasi, metode pengumpulan data, istrumen pengukuran variabel dan metode/ teknik/ strategi analisi data.
Bab yang menyajikan Hasil Evaluasi, subbabnya sangat bergantung pada jumlah topik/ masalah evaluasi. Jika yang dievaluasi melibatkan lima aspek maka subbabnya tentu lima, apabila melibatkan tujuh aspek maka subbabnyapun tujuh, demikian seterusnya.
Bab Pembahasan Hasil Evaluasi biasanya menguraikan dan membahas keseluruhan hasil evaluasi beserta tinjauan kepustakaan yang ada, hasil-hasil evaluasi yang lain, dan metodologi evaluasi yang digunakan, guna diperbandingkan satu dengan yang lain, dilacak keterkaitannya satu dengan yang lain, dan metolodologi evaluasi yang digunakan, guna diperbandingkan satu dengan yang lain, dilacak keterkaitannya satu dengan yang lain, dan bahkan dievaluasi satu dengan yang lain sehingga kita dapat “menempatkan” bagaimana posisi hasil/ temuan evaluasi tersebut dalam perspektif khazanah pengetahuan/ teori yang telah ada.
Bab Kesimpulan dan Rekomendasi biasanya terdiri atas subbab kesimpulan evaluasi dan subbab saran-saran.[10]

IV.      KESIMPULAN
Menurut Joint Committee On Standars For Educational Evaluation (1981:12) program evaluations that assess educational activities which provide service on a continuing basis and often involve curricular offerings. Evaluasi program merupakan evaluasi yang menilai aktifitas dibidang pendidikan dengan menyediakan data yang berkelanjutan.
Tujuan diadakannya evaluasi program adalah untuk mengetahui pencapaian tujuan program dengan langkah keterlaksanaan kegiatan program, karena evaluator program ingin mengetahui bagian mana dari komponen dan subkomponen program yang belum terlaksana dan apa sebabnya.
Fungsi evaluasi program meliputi : Penilaian berfungsi selektif, Penilaian bernilai diagnostik, Penilaian berfungsi sebagai penempatan, dan Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan.
Ciri dan persyaratan evaluasi program : Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari kaidah yang berlaku, Peneliti harus berfikir secara sistematis, perlunya identifikasi komponen, menggunakan standar, kriteria, atau tolak ukur, hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat.
Obyek atau sasaran evaluasi program meliputi : materi/kurikulum, guru, metode mengajar, dan sarana pendidikan (alat, bahan, dan media belajar).
Cara melaksanakan evaluasi program terlebih dahulu harus menyusun evaluasi sekaligus instrument pengumpulan data. Sebagai cara yang paling sederhana adalah mengadakan pencatatan terhadap peristiwa  yang dialami dari kegiatan sehari-hari dikelas.
Laporan evaluasi tak ubahnya seperti laporan penelitian, ada yang menggunakan pendekatan kuantitatif, dan ada yang menggunakan pendekatan kualitatif.

V.         PENUTUP
Demikianlah makalah Dasar-Dasar Manajemen yang kami buat, tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan di dalam penulisan maupun pengambilan referensi, oleh sebab itu kami selaku penyusun makalah ini menerima kritik dan saran agar untuk pembuatan makalah kami ke depan menjadi lebih baik. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.


[1] Prof. Dr. Suharsini Arikunto, EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN, (Jakarta: BUMI AKSARA, 2010), hlm.1
[2] Prof. Dr. Suharsini Arikunto, EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN, (Jakarta: BUMI AKSARA, 2010), hlm.3
[3] Prof. Dr. Suharsini Arikunto, EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN, (Jakarta: BUMI AKSARA, 2010), hlm.5
[4] Prof.Dr. S. Eko Putro Widoyoko, M. Pd, EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN, (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR: 2009), hlm.9-10

[5] Prof. Dr. Suharsini Arikunto, DASAR-DASAREVALUASI PENDIDIKAN, (Jakarta: BUMI AKSARA, 2011), hlm.10-11
[6] Prof. Dr. Suharsini Arikunto, EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN, (Jakarta: BUMI AKSARA, 2010), hlm. 8-9
[7] Prof. Dr. Suharsini Arikunto, DASAR-DASAREVALUASI PENDIDIKAN, (Jakarta: BUMI AKSARA, 2011), hlm.294-295
[8] Prof. Dr. Suharsini Arikunto, DASAR-DASAREVALUASI PENDIDIKAN, (Jakarta: BUMI AKSARA, 2011), hlm.303-305
[9] Prof. Dr. Suharsini Arikunto, EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN, (Jakarta: BUMI AKSARA, 2010), hlm.200
[10] Prof. Dr. Suharsini Arikunto, EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN, (Jakarta: BUMI AKSARA, 2010), hlm.202-204 



DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini, EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN, Jakarta: BUMI AKSARA, 2010.
Arikunto, Suharsini, DASAR-DASAREVALUASI PENDIDIKAN, Jakarta: BUMI AKSARA, 2011.
Widoyoko, Eko Putro, EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN, Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR: 2009.