Senin, 22 Juni 2015

Tradisi Dundum Kantong bagi Pernikahan Anak Bungsu di Desa Gembong Kabupaten Pati



Tradisi Dundum Kantong bagi Pernikahan Anak Bungsu di Desa Gembong Kabupaten Pati 
LAPORAN MINI RISET
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu: M. Rikza Chamami, M. SI




Disusun Oleh:
1.      Dina Fitriyani                      (123911042)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS  ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015

       I.            Pendahuluan
Seiring perkembangan zaman, tradisi dan kebudayaan di suatu daerah semakin memudar dan terkikis oleh  budaya baru dari luar. Budaya baru yang terkesan lebih modern membuat tradisi disuatu daerah terkesan ketinggalan zaman. Selain itu, bertambahnya pengetahuan manusia membuat pandangan bahwa sebagian dari tradisi merupakan perbuatan yang menyimpang dan harus dihilangkan.
Kebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang terepresentasi dalam bentuk tradisi, baik tradisi yang berupa hiburan, spiritual, berbau mistik, ataupun kolaborasi dari ketiganya. Pada masyarakat Jawa, umumnya terdapat pula tradisi-tradisi yang sering dilakukan. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari pera kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Jawa itu sendiri. Kepercayaan atau ritual yang dilakukan oleh orang Jawa disebut sebagai “Kejawen”. Ajaran kejawen merupakan keyakinan dan ritual campuran dari agama-agama formal dengan pemujaan terhadap kekuatan alam.[1]
Setelah Islam datang, proses Islamisasi dilakukan dengan cara mengalkuturasi budaya lokal dengan budaya Islam. Islam tidak menghapus keseluruhan adat istiadat dan tradisi lokal masyarakat, namun hanya memasukkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Sehingga, dalam kebudayaan jawa terjadi kebudayaan Islam Kejawen atau Jawa yang keislaman. Tradisi-tradisi tersebut berkaitan dengan lingkungan hidup manusia sejak dari keberadaannya dari perut ibu, lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa sampai dengan kematiannya.
Dalam sebuah tradisi dan kebudayaan, suatu ritual atau upacara  memegang peran penting dalam rangkaian acara. Upacara atau ritual tersebut menggambarkan prosesi tradisi atau kebudayaan sedang berlangsung. Dalam upacara pernikahan Jawa, ada suatu prosesi yang disebut tumplak punjen, yaitu sebuah acara yang dilakukan pada saat pernikahan anak terakhir, yaitu apabila orangtua telah menikahkan  semua anaknya.
Di sebuah desa di kecamatan Gembong Kabupaten Pati, saya pernah mengikuti ritual tumplak punjen ketika adik dari ibu saya menikah. Namun di daerah tersebut, ritual tumplak punjen dikenal dengan sebutan dundum kantong.
Dari latar belakang di atas, penulis membuat rumusan masalah “Bagaimana pelaksanaan tradisi dundum kantong sebagai acara pungkasan pada pernikahan anak bungsu di desa Gembong Kabupaten Pati?”

    II.            Landasan Teori
Pernikahan adalah suatu rangkaian upacara yang dilakukan sepasang kekasih untuk menghalalkan  semua perbuatan yang berhubungan dengan kehidupan suami istri guna meneruskan garis keturunan.
Tradisi dundum kantong atau yang lebih di kenal dengan Tumplak Punjen merupakan acara yang dilakukan ketika ada anak perempuan bungsu (anak terakhir / paling kecil) melangsungkan pernikahan. Secara istilah, Tumplak artinya tumpah (keluar semua), punjen artinya dipanggul, yang dipanggul adalah tanggung jawab, yakni tanggung jawab orang tua terhadap anak. Tumplak punjen artinya melepaskan tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya. Sedangkan dundum berarti membagikan dan kantong merupkan sebuah tempat untuk menyimpan harta. Jadi, dundum kantong adalah membagikan harta orang tua kepada anaknya sebagai bekal masa depan.
Ritual  dundum kantong mengandung makna rasa syukur dan bahagia orang tua mempelai karena telah berhasil menikahkan semua anaknya, serta dapat memberikan kekayaan yang dimiliki kepada semua anak sebagai bekal penghidupan keuarganya. Upacara dundum kantong mempunyai tujuan agar setiap keluarga diberi kemudahan dan hartanya bisa terkumpul ketika mencari rizki.
Yang perlu dipersiapkan dalam pelaksanaan dundum kantong adalah dekeman, baskom berisi air, bunga tujuh rupa, dan uang koin nominal 100-1000 rupiah. Dekeman adalah makanan berupa ayam kampung yang dimasak utuh dan diberi bumbu opor. Dalam penyajiannya diberi pupukan (imbuhan) sebagai pelengkap, berupa mie goreng, sambal kering tempe, tumis kacang, dan lalapan (kacang panjang dan mentimun atau terong).

 III.            Kondisi Lapangan
Desa Gembong adalah salah satu desa di Kecamatan Gembong Kabupaten Pati yang merupakan salah satu daerah yang letaknya di lereng Gunung Muria dan juga termasuk dalam jalur alternatif Kudus-Surabaya. Desa tersebut selalu dilewati oleh kendaraan yang mengangkut rombongan peziarah ke Sunan Muria dari arah Timur, dan dari Muria ke arah Timur.
Mata pencaharian masyarakat Gembong adalah bertani dan berdagang. Jenis pertanian yang dilakukan diantaranya bertani padi, jagung, ketela pohon, kacang, tebu, dan bermacam rempah-rempah. Sedangkan pusat perekonomian masyarakat Gembong terletak di Pasar Gembong. Pasar tesebut merupakan pasar utama di kecamatan Gembong.
Masyarakat desa Gembong masih menghormati budaya, meskipun pada budaya tersebut sudah diakulturasikan dengan tradisi keislaman. Contohnya, pada saat perayaan sedekah bumi, selalu diadakan ritual berziarah ke kuburan para leluhur, menanggap wayang ataupun ketoprak (wayang manusia) dengan disertai sesaji dan melakukan selametan.
Selain itu, pada sebuah pernikahan pun banyak ritual yang dilakukan sesuai dengan adat Jawa masa dulu, seperti kepercayaan mencocokkan pasaran hari lahir calon pengantin, menentukan hari pernikahan sesuai pasaran, nyekar ke kuburan leluhur, lamaran, pingitan, memasang tratak/tarub, midodareni, dan berbagai ritual saat dan sesudah acara pernikahan dilakukan.
Salah satu acara khusus yang dilakukan pada saat pernikahan yaitu tradisi dundum kantong atau tumplak punjen.
 IV.            Analisis Lapangan
Di desa Gembong, acara dundum kantong dilakukan pada akhir prosesi pernikahan anak perempuan terakhir. Setelah penutupan pesta pernikahan atau resepsi, para tamu undangan memberi selamat kepada kedua mempelai dan keluarga kemudian pulang. Dan setelah itulah acara dundum kantong dilakukan.
 Runtutan acaranya pada acara dundum kantong yaitu pertama-tama salah satu anak menyampaikan pidato dan berdoa, setelah itu semua anak dan mantu (menantu) sungkem pada kedua orang tua, dimulai dari anak mbarep (sulung / anak pertama) sampai anak ruju (bungsu/ anak terakhir). Setiap setelah satu pasang keluarga selesai bersungkem, orang tua memberikan panci kepada keluarga anaknya, sebagai tanda pemberian harta orang tua kepada keluarga anaknya.
Setelah acara sungkeman, semua anak dan menantu tersebut berputar mengelilingi dekeman dan baskom berisi air, bunga tujuh rupa dan uang koin. Setelah itu, ketika ada aba-aba dari pembawa acara, setiap orang (anak dan menantu) berebut dekeman dan uang receh yang ada di dalam baskom berisi air. Mereka percaya bahwa  banyak / sedikitnya uang yang didapat menunjukkan besar / kecilnya rizki yang akan mereka dapat di masa depan bagi keluarga tersebut.
Setelah menghitung uang yang didapat, uang ditaruh di dalam kantong (tempat penyimpanan harta dari kain) agar rizki yang sudah terkumpul bisa dibuat bekal untuk masa depan keluarga. Kemudian dilaksananakn doa penutup. Setelah itu, sebagai acara puncak, orang tua bersama anak dan cucu makan bersama-sama dekeman yang disediakan sebagai tanda kebersamaan dan kerukunan.

    V.            Kesimpulan
Tradisi dundum kantong atau yang lebih dikenal dengan tumplak punjen merupakan sebuah tradisi yang dilakukan pada pernikahan anak bungsu (anak terakhir) di adat jawa. Ritual  tersebut mengandung makna rasa syukur dan bahagia orang tua mempelai karena telah berhasil menikahkan semua anaknya. Di desa Gembong Kecamatan Gembong Kabupaten Pati, acara dundum kantong dilakukan pada saat pernikahan anak perempuan terakhir, yangmana acara tersebut dilakukan setelah rentetan acara pernikahan berakhir, atau setelah para tamu undangan telah berpamitan dan memberi selamat kepada kedua mempelai pengantin.
Tujuan diadakan ritual tersebut adalah sebagai ungkapan rasa syukur orang tua kepada Allah karena telah mampu menyelesaikan tugasnya untuk merawat dan menjaga anaknya sampai ke jenjang pernikahan. Selain itu, dengan diadakan ritual dundum kantong, diharapkan rizki yang di dapat oleh anak cucunya bisa menjadi bekal hidup selanjutnya.


[1] M. Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, (yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 86
 

BEGAWAN CIPTA WENING



BEGAWAN CIPTA WENING
Nama: Dina Fitriyani
NIM: 123911042
Mata kuliah : Islam dan Kebudayaan Jawa
Dosen pengampu: M. Rikza Chamami, M. SI

Prabu Niwatakawaca adalah seorang raja raksasa di Ima-imantaka yang ditakuti oleh banyak orang karena kekuatan sangat hebat. Pada suatu ketika, ia hendak meminang seorang bidadari di Suralaya (tempat dewa-dewa) yang bernama Dewi Supraba, tetapi keinginannya tersebut ditolak oleh Hyang Indra. Karena penolakan itu, Prabu Niwatakawaca sangat murka, dan ia hendak merusak Keandran (tempat betapa Indra).
            Pada saat kejadian tersebut, Raden Arjuna yang bergelar Begawan Mintaraga sedang bertapa di bukit Indrakila. Karena kekhawatiran Betara Indra terhadap Arjuna jika ia dimintai untuk membantu melawan Prabu Niwatakawaca sang raja raksasa, maka Betara Indra menitipkan Bidadari-bidadarinya untuk menggoda Arjuna supaya tapanya gagal. Akan tetapi bidadari-bidadari itu tidak berhasil karena Arjuna tidak tergoda, malah sebaliknya mereka yang tergoda akan ketampanan Arjuna.
            Seorang raksasa sakti bernama Mamangmurka yang merupakan duta dari Prabu Niwatakawaca datang ke pertapaan Arjuna hendak membunuh Arjuna. Setiba di pertapaan tersebut, ia merusak daerah pertapaan. Setelah hal itu diketahui oleh Arjuna, kemudian Arjuna menyumpahi pada Mamangmurka, katanya: “yang kamu (Raksasa) lakukan sama seperti seekor babi hutan”. Lalu seketika juga raksasa tersebut berupa menjadi babi hutan dan diikuti oleh Hyang Indra dengan menggati rupan seperti seorang pendeta bernama Resi Padya dan berhajat akan membunuh babi hutan itu. Ia melepaskan anak panahnya dan mengenai tubuh babi hutan tersebut, Arjuna mengikuti babi hutan itu dan memanahnya juga.
            Kejadian tersebut menimbulkan selisih antar keduanya, masing-masing mengakui bahwa anak panah yang mengenai binatang itu adalah anak panahnya. Tetapi Hyang Indra sebenarnya sangat bersukacita karena Hyang Indra dapat memberatkan Arjuna dan meminta bantuan untuk memusnahkan seorang raja Raksasa yang hendak meminang salah satu bidadarinya. Pada akhirnya permintaan Hyang Indra dikabulkan oleh Arjuna, Prabu Niwatakawacapun dibinasakan oleh Arjuna.
            Sebagai hadiah, Arjuna diangkat sebagai Raja di Kaindran selama sehari lamanya. Menutur perhitungan Dewa sehari dialam manusia itu sama dengan sebulan di Kaindra. Arjuna mendapat gelar sebagai Prabu Kariti.

LAPORAN HASIL KUNJUNGAN KE MUSEUM RONGGOWARSITO SEMARANG




LAPORAN HASIL KUNJUNGAN KE MUSEUM RONGGOWARSITO SEMARANG

Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu M. Rikza Chamami, M. SI



Disusun oleh:
Dina Fitriyani              (123911042)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015

I.                   PENDAHULUAN
Museum Ronggowarsito terletak di Jl. Abdulrachman Saleh Semarang, museum ini merupakan bangunan dua lantai yang menyimpan koleksi kerajinan dan seni Jawa, foto dokumenter, keris, lukisan, dan warisan budaya Jawa lainnya. Museum Ronggowarsito Semarang dilengkapi auditorium, perpustakaan, laboratorium, gudang dan taman. Di museum ini ada empat gedung utama, masing-masing dua lantai. Di delapan ruang gedung yang luasnya masing-masing 400 m2 itu terdapat sekitar 40.000 koleksi, dari mulai jaman prasejarah hingga jaman setelah proklamasi kemerdekaan.
Gedung A lantai 1 disebut Ruang Sejarah Alam dengan koleksi Kosmologis, Geologi dan Geografika, serta Ekologi. Sedangkan di lantai 2 terdapat ruang Palaeontologi, Palaeobotani, Paleozoologi, dan Palaeoantropologika. Gedung B disebut Ruang Sejarah Peradaban Kebudayaan, dengan koleksi budaya Hindu, Budha, Islam, Eropa dan kraton. Gedung B lantai 2 terdapat koleksi benda purbakala dari jaman batu, jaman logam, dan peradaban Polinesia. Gedung C merupakan Ruang Sejarah Perjuangan Bangsa Dan Etnografi. Sedangkan Gedung D merupakan Ruang Era Pembangunan, dan Gedung D Lantai 2 merupakan Ruang Kesenian.

II.                HASIL KUNJUNGAN
Didalam museum ini ada 4 gedung, pertama gedung A, gedung B, gedung C dan gedung D.Gedung A sebagai ruang Geologi dan Paleontologi.Lantai I adalah ruang geologi yang menampilkan gunungan blumbangan, meteorit, material gunung berapi, stalaktit-stalakmit dan batu mulia.Lantai II berisi kerangka gajah Elephas, fosil gading gajah purba (stegodon) yang panjangnya lebih dari 3 m, replika fosil pithecanttropus erectus VIII, fosil tanduk kerbau, lukisan tentang kehidupan reptil.Gedung B sebagai ruang Sejarah Hindu-Budha , Islam dan kolonial dan ruang keramik dan batik.Lantai I sebagai ruang sejarah Hindu-Budha , Islam dan kolonial yang menampilkan arca Ganesha terbesar dimuseum, arca Bodhisatwa, pintu Paduraka Masjid Kudus, Meriam, Genta Kapal, dan Tombak Maling.Lantai II ruang keramik dan batik menampilkan koleksi keramik dari Dinasti Ming abad XIV, keramik Belanda dan Inggris, gerabah lokal dan batik dar beberapa kabupaten di Jateng.Gedung C adalah galeri bersejarah perjuangan bersenjata pada lantai I.Pada lantai I ini dibagi menjadi dua bagian: koleksi semasa perjuangan fisik dan diploma.Lantai II sebagai ruangan yang mencakup ruang teknologi mata pencaharian, ruang teknologi industry, transformasi, ruang teknologi kerajinan, dan rumah tinggal.Yang terakhir gedung D sebagai galeri pembangunan pada lantai I, galeri ini dikelompokkan kedalam ruang pembangunan, ruang tradisi Nusantara.Lantai II sebagai galeri kesenian yang dipisahkan menjadi seni pagelaran, seni pertunjukkan dan seni musik.
Peninggalan budaya dijawa antara lain candi, wayang, prasasti, keris dan  blencong Candi merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat menyembah para dewa pada Hindu-Budha.Candi-candi yang berada di Jawa antara lain Candi Pawon, Candi Mendhut, Candi Dieng, dan Candi Cetho.Candi Pawon terletak di desa Borobudur , kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, propinsi Jawa Tengah.Candi yang mempunyai nama lain Candi Prajanalan  ini lokasinya sekitar 2 km kea rah timur laut dari Candi Borobudur dan 1 km kearah Tenggara dari Candi Mendut.Candi Mendut terletak di desa Mendut, kecamatan Mungkid, kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 38 km kearah barat laut Yogyakarta.Lokasinya hanya 3 km dari Candi Borobudur, yang mana candi Budha ini diperkirakan mempunyai kaitan erat dengan Candi Pawon dan Candi Mendut.Ketiga candi tersebut terletak pada satu garis arah selatan-utara.Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Kawasan Candi Dieng menempati pada daratan pada ketinggian  2000 m diatas permukaan laut, memanjang arah utara-selatan sekitar 1900 m dengan lebar sepanjang 800m.Candi Cetho merupakan sebuah candi bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit Akhir pada Abad ke-15 , terletak pada desa Gumeng, wilayah kecamatan Jenawi dengan ketinggian 1400 m dpl.Mempunyai nilai mistik yang tinggi dan biasa dipergunakan sebagai tempatperenungan diridan meditasi.Dikelilingi hamparan perkebunan teh berada disekitarnya serta kesejukan udara yang akan memberikan nuansa kembali ke alam yang kental.
Prasasti Temanggung berasal dari desa Temanggung yang berbahan batu, berasal dari abad VIII M.Tulisan dengan huruf dan bahasa Jawa Kuno, isi prasasti tersebut sebagai berikut: Swasti saka  warsasita 785 sada masa pancemi krsnapaksa ,Paniruan-wegai buda wara, Uttar sada neksira sabha, Gya yoga tatkala pitama ………… (pecah).Prasasti SAg PAMGAT SWAg asal dari desa Jetak , Mungkid kabupaten Magelang.Prasasti ini ditulis melingkar ( 3 baris ) dibagian atas silinder menggunakan huruf dan bahasa Jawa Kuno.Isi prasasti sdbagai berikut: Swasti saka warsasita  803 asujimasa ekadisi suklapaksa  waruku kaliwuan sukraw’ ra, Dhanistha naksatra drtiamwata yoga tatkala sag pamgat swan man ma.Prasasti Nandi asal kabupaten Batang  merupakan aspek siwa dalam bentuk thejomorphic, yaitu penggambaran tokoh dalam bentuk binatang, dalam hal ini adalah binatang lembu.Didalam Hindhu, binatang sering digambarkan dalam hubungannya sebagai “Vahana” dewa  (kendaraan dewa). Pada bagian dasar ( lapik ) arca nandi tersebut terdapat tulisan pendek / prasasti menggunakan huruf dan bahasa Jawa Kuno.
Wayang adalah buah karya seni adi luhur bangsa Indonesia.Ia merupakan wujud hasil olah sistem gagasan perilaku masyarakat Indonesia.Beberapa prasasti telah membuktikan bahwa pertunjukan wayang telah ada pada jaman kuno.Misalnya empat lempengan tembaga  yang ditemukan di Bali. Lempengan ini berangka tahun 980 Saka ( 1058 M )  dan isinya telah disalin oleh Van Der Tuuk dan Dr.Brandes. Lempengan ini menyebutkan kata ringgit.Kata ringgit ini sebagai sinonim dari kata wayang .Sementara itu, relief pada candi seperti relief di candi Prambanan , candi Panataran juga ditemukan jejak dekoratif bentuk wayang mirip wayang beber.
Wayang kulit dapat penghargaan UNESCO sebagai warisan dunia pada tanggal 7 Nopember 2003.Macam-macam wayang yaitu  wayang sadat, wayang warta,wayang budha, dan lain-lain.Wayang sadat adalah wayang yang mengangkat kisah Babad Tanah Islam di Tanah Jawa, wayangnya berbubasa seperti orang islam.Wayang warta merupakan wayang yang mengisahkan kisah-kisah pada kitab Injil.Wayang Budha mengisahkan Sidarta Gautama.
Keris merupakan senjata khas masyarakat Jawa dan kalangan masyarakat Jawa.Keris dianggap sebagai benda leluhur.Namun masyarakat kurang memahami senjata tradisional tersebut.Dengan perkembangan zaman, banyak masyarakat Jawa tidak mengetahuimsejarah keris, makna sebenarnya, fungsi keris dan dan bagaimana menempatkan keris dengan tepat sehingga banyak yang disalahgunakan.
Blencong merupakan alat penerangan untuk pertunjukan wayang pada masa lampau yang menggunkan bahan bakar minyak kelapa.Blencong ini terbuat dari kayu berukir ataupun perunggu, dengan lubang ditengah untuk menaruh minyak dan sumbu.Namun blencong sekarang jarang digunakan karena dianggap kurang praktis dan sinarnya kurang terang.
     Sedangkan peninggalan budaya yang terkait dengan islam antara lain menara masjid Kudus, sirap atap masjid Demak, dan seni hias Terakota.
     Menara masjid Kudus ini berada dalam satu kompleks dengan masjid kudus, tepatnya disamping kanan masjid.Arsiteknya mengatur  pada bangunan pura (seperti di Bali).Tinggi menara ini 18 m. Menara didirikan bersamaan dengan dibangunnya masjid kudus pada abad ke XVI M. Masjid kudus terletak di desa Kauman , kabupaten Kudus.
     Sirap atap masjid Demak, atap bersusun tiga masjid Demak melambangkan  orang yang beriman dimulai dari mukmin, muslim, dan muhsin, serta islam dan ihsan.Juga melambangkan tiga tingkatan dalam tasawuf yang dari bawah keatas melambangkan  syari’at,tarekat , dan ma’rifat. Pada waktu dibangun atap masjid demak terbuat dari welit, kemudian tahun 1710 Paku Buana I memerintahkan untuk mengganti welit dengan sirap dari kayu. Dalam tradisi Jawa atap hanya boleh digunakan pada atap-atap rumah bangunan.sirap terbuat dari kayu jati yang tua.
     Seni hias terakota adalah salah satu kekayaan dan warisan budaya masyarakat Jawa Tengah yang tidak ternilai harganya.Keberadaannya sudah cukup lamadan telah member warna serta menghiasi kehidupan masyarakat, seni terakota terbuat dari tanah liat yang dibakar, beragam motif sulur. Seni pada masa islam abad ke XV. Fungsinya ialah untuk hiasan bangunan.

III.             PENUTUP
Demikianlah laporan ini saya susun dan tentunya jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan demi penyusunan laporan selanjutnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.