Rabu, 07 Januari 2015

BAHASA KARYA TULIS ILMIAH


BAHASA KARYA TULIS ILMIAH
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Karya Tulis Ilmiah
Dosen pengampu : M. Rikza Chamami, MSI

Disusun Oleh :
Dina Fitriyani                                    (123911042)
Feri Lesmana                                    (123911047)
       Fuani Tikawati Maghfiroh                (123911048)
            Novi Arifatul Mufidah                     (123911079)
                                   

    FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
    UNIVERSITAS  ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
      2014

I.                   PENDAHULUAN
Selama ini, kita jarang yang tahu untuk apa membaca, baik membaca buku fiksi, nonfiksi, jurnal bahkan karya tulis ilmiah.  Pada bahasan selanjutnya akan dipaparkan perihal Bahasa Karya tulis Ilmiah, sebab “bahasa” dalam karya tulis ilmiah berkedudukan sebagai bahasa komunikasi antara penutur dengan pendengar atau penulis dengan pembaca.
Dalam rangka menciptakan budaya membaca dan menulis karya tulis ilmiah, pendidikan bahasa karya tulis ilmiah haruslah ditanamkan sedini mungkin. Hubungan dengan hal tersebut, maka pada perguruan tinggi biasanya terdapat mata kuliah yang khusus membahas perihal Karya Tulis Ilmiah. Sehingga, mampu membuat pemahaman masyarakat akan beralih pasalnya penggunaan bahasa pada karya tulis ilmiah dikenal masyarakat luas ataupun awam.
Karya tulis ilmiah sebagai wahana melatih mengungkapkan pikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis memerlukan bahasa penyambung atau pengantar yang sesuai, disinilah letak fungsi bahasa karya tulis ilmiah. Bahasa karya tulis ilmiah juga banyak ragamnya dan memiliki struktur atau penyusunan yang tidak jauh dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, hanya saja nampak lebih sistematis dan metodologis.
Bahasa dalam Karya Tulis Ilmiah bertujuan untuk menyampaikan suatu hal, gagasan (pendapat), ide kepada orang lain agar dapat memahaminya. Tanpa peran bahasa Karya Tulis Ilmiah tidak dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berpikir modern.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Apa Pengertian Ragam Bahasa dalam Karya Tulis Ilmiah?
B.     Bagaimana Fungsi dan Kedudukan Bahasa dalam Karya Tulis Ilmiah?
C.     Bagaimana Gaya dan Bahasa dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah?

III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ragam Bahasa dalam Karya Tulis Ilmiah
Bahasa merupakan alat komunikasi yang efektif antara manusia. Dalam berbagai macam situasi, bahasa dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan gagasan pembicaraan kepada pendengar atau penulis kepada pembaca.[1] Setiap situasi tersebut memungkinkan seseorang memilih variasi bahasa yang akan digunakannya. Istilah yang dipergunakan untuk menunjuk salah satu dari sekian variasi pemakaian bahasa disebut ragam bahasa. Ragam bahasa yang beraneka ragam itu masih tetap disebut “Bahasa Indonesia” karena masing-masing berbagi teras atau intisari bersama yang umum.
Istilah ragam bahasa disejajarkan dengan variasi. Seperti halnya jika orang mengatakan bahwa modelnya sangat beragam, di dalamnya terkandung maksud bahwa modelnya sangat bervariasi. Adanya ragam atau variasi mengimplikasikan bahwa dari berbagai ragam atau variasi itu terdapat satu model yang menjadi acuan. Dengan demikian, bagaimanapun model variasinya pastilah terdapat intisari atau ciri-ciri umum yang sama.
Pemilihan terhadap salah satu ragam bahasa dipengaruhi oleh faktor kebutuhan pembicara atau penulis akan alat komunikasi yang sesuai dengan situasi. Tidak tepat kiranya apabila komunikasi di pasar menggunakan ragam bahasa seperti yang digunakan dalam rapat dinas. Demikian pula misalnya, komunikasi antar penumpang dengan abang tukang becak berbeda dengan antar menteri dalam sidang kabinet.[2]
Secara spesifikasi ragam bahasa ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Ragam bahasa ilmiah dapat juga diartikan sebagai sarana verbal yang efektif, efisien, baik, dan benar. Ragam ini wajib digunakan untuk mengomunikasikan proses kegiatan dan hasil penalaran ilmiah.[3]
Pada ragam ilmiah, bahasa, bentuk, luas, dan ide yang disampaikan melalui bahasa itu sebagai bentuk dalam, tidak dipisahkan. Hal ini terlihat pada ciri bahasa ilmu, seperti berikut ini: [4]
1.      Baku. Artinya, struktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku, harus sesuai dengan kaidah ejaan yang benar.
2.      Logis. Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa Indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal.
3.      Kuantitatif. Keterangan yang dikemukakan pada kalimat dapat diukur secara pasti.
4.      Tepat. Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh pemutus atau penulis dan tidak mengandung makna ganda.
5.      Denotatif yang berlawanan dengan konotatif. Kata yang digunakan atau dipilih sesuai arti sesungguhnya.
6.      Runtun. Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan tingkatannya.
7.      Cendekia. Bahasa Indonesia mampu digunakan untuk mengungkapkan hasil berpikir logis secara tepat.
8.      Lugas dan jelas. Bahasa Indonesia keilmuan digunakan untuk menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas dan tepat.
9.      Formal dan obyektif. Komunikasi ilmiah melalui teks ilmiah merupakan komunikasi formal, oleh karena itu dalam penulisan dan penyampaiannya harus obyektif.

B.     Fungsi dan Kedudukan Bahasa dalam Karya Tulis Ilmiah
Fungsi dan kedudukan bahasa karya tulis ilmiah sangatlah penting untuk menunjang kredibilitas  suatu karya ilmiah. Kedudukan bahasa karya tulis ilmiah yaitu sebagai bahasa komunikasi.
Dari cara menggunakan bahasa itu, tentu saja bahasa difungsikan sebagai mestinya. Fungsi itu meliputi fungsi aktif, fungsi pasif, dan fungsi respektif.
1.      Fungsi aktif adalah penggunaan bahasa untuk berkomunikasi secara aktif dengan pengguna atau pemakai bahasa lainnya (interlocutor). Contoh: untuk proses belajar mengajar dan menulis surat.
2.      Fungsi pasif adalah penggunaan bahasa yang tidak melibatkan orang lain di dalam kegiatan tersebut. Contoh : menghitung, mengutuk, menggumam, atau berdo’a.
3.      Fungsi respektif adalah penggunaan bahasa yang tidak melibatkan alat ucap, melainkan menggunakan penalaran untuk memahami ide orang lain. Akan tetapi pemakai bahasa  tidak hanya diam, melainkan memberikan respons yang tampak maupun yang tidak tampak.[5]

C.     Gaya dan Bahasa dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah
Memberikan gambaran yang komprehensif ihwal penulisan kata, kalimat, paragraf, dan penyusunan alinea. Dengan semuanya itu,
1.      Penulisan Kata
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, entitas “kata” dapat dipahami sebagai unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan, yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.[6] Oleh karena itu, penulisan kata mempunyai peranan yang sangat penting dalam bahasa karena merupakan unsur utama dalam pembangun kalimat. Tanpa kata, tidak mungkin ada bahasa. Karena itu, para pengguna bahasa harus berhati-hati ketika memilih kata-kata untuk membuat kalimat. Pemilihan kata yang baik dan tepat akan memudahkan seseorang untuk memahami makna dari kata tersebut, baik lisan maupun tulisan. Seorang penulis yang baik harus menimbang setiap kata yang akan digunakan sebelum dituangkan dalam tulisan, terlebih dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah.
Ada  beberapa ukuran yang perlu diperhatikan dalam menggunakan kata, terutama dalam situasi resmi, yaitu: [7]
a.         Kata yang lazim dipakai dalam bahasa tutur atau bahasa setempat harus dihindari. Misalnya: nongkrong, raun. Kata-kata itu dapat dipakai apabila sudah menjadi milik umum. Contoh: santai, lugas, anjangsana.
b.        Kata yang mengandung nilai rasa hendaknya dipakai secara cermat dan hati-hati agar sesuai dengan tempat dan suasana pembicaraan. Contoh: tunanetra (buta).
Kata yang tidak lazim dipakai dihindari, kecuali kalau sudah dipakai oleh masyarakat. Contoh: laskar = didaulat.
2.      Penulisan Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran dan gagasan yang utuh. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, harus memiliki subjek dan predikat.[8] Subjek dan predikat merupakan unsur utama dalam sebuah kalimat yang harus ada dalam sebuah kalimat, apabila tidak memiliki kedua unsur tersebut, maka bentuk kebahasaannya bukanlah kalimat, melainkan frasa, kumpulan kata.
Dalam membangun sebuah kalimat, terdapat beberapa unsur penyusunnya, yaitu: [9]
a.       Subyek
Subyek adalah unsur yang diperhatikan dalam sebuah kalimat. Subyek merupakan inti dalam kalimat yang dijelaskan oleh unsur predikat. Contoh : para mahasiswa melakukan demo di jalan raya.
b.      Predikat
Predikat merupakan kata di dalam sebuah kalimat yang berfungsi memberitahukan apa, mengapa, atau bagaimana subyek. Contoh: para mahasiswa melakukan demo di jalan raya.
c.       Pelengkap
Sering kali sebuah kalimat harus dilengkapi lagi dengan unsur lain, sehingga terjadilah suatu pernyataan yang lebih lengkap. Misalnya: pemerintah membangun pusat kegiatan remaja.
Kata yang dicetak tebal merupakan unsur pelengkap. Terlihat pula bahwa dalam sebuah kalimat, unsur pelengkap itu selalu berada di belakang predikat. Unsur pelengkap itu disebut obyek.
d.      Kata Perangkai
Unsur perangkai berfungsi merangkaikan dua unsur subyek, dua unsur predikat, atau dua unsur pelengkap di dalam sebuah kalimat. Unsur kalimat yang berfungsi sebagai kata perangkai sering diawali oleh kata-kata dan, dengan, setra, bersama, beserta, dan kadang-kadang oleh kata juga.


e.       Kata Penghubung
Adakalanya kata penghubung terdiri atas satu kata dan ada pula yang terdiri atas satu kelompok kata yang berfungsi untuk menghubungkan (jika perlu) dua buah informasi di dalam satu kalimat.
f.       Kata Modalitas
Unsur tersebut sering disebut “kata warna” dan berfungsi untuk mengubah keseluruhan arti sebuah kalimat.
Dalam membuat karya tulis ilmiah, kalimat yang digunakan harus efektif dan menggunakan kaidah penulisan yang benar. Kalimat efektif adalah kalimat yang secara tepat mewakili gagasan atau perasaan pengarang dan sanggup menimbulkan gambaran yang sama tepatnya pada pembaca atau pendengar.[10] Dengan menggunakan kalimat efektif, informasi yang disampaikan akan lebih jelas dan mudah dipahami.
Adapun ciri-ciri kalimat efektif dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: [11]
a.       Kesepadanan struktur
b.      Keparalelan bentuk
c.       Ketegasan makna
d.      Kehematan kata
e.       Kecermatan penalaran
f.       Kepaduan gagasan
g.      Kelogisan bahasa

3.      Penulisan Paragraf
Paragraf adalah satuan bahasa tulis yang terdiri dari beberapa kalimat. Kalimat-kalimat di dalam paragraf itu harus disusun seacara runtut dan sistematis, sehingga dapat dijelaskan hubungan antara kalimat yang satu dan kalimat lainnya dalam paragraf itu. Sebuah paragraf juga mutlak harus memiliki ide utama atau pikiran pokok itu, dalam paragraf juga terdapat kalimat penjelas, dan kalimat penegas.
Ide utama atau kalimat utama paragraf harus berisi ide utama dari paragraf yang bersangkutan. Ide pokok sesungguhnya memiliki jangkauan keluasan yang lebih besar daripada kalimat pokok atau kalimat utama. Dari sebuah ide pokok atau ide utama dapat dikembangkan beberapa kalimat utama paragraf. Lalu, berdasarkan posisinya di dalam sebuah paragraf, kalimat pokok atau kalimat utama itu dapat berada pada posisi yang berbeda-beda. Perbedaan tempat atau posisi bagi sebuah kalimat utama demikian ini akan menentukan pula alur pikiran yang harus diterapkan.[12] Pembagian posisi kalimat utama tersebut adalah sebagai berikut:[13]
1.        Kalimat utama di awal paragraf
Dengan kalimat utama di awal paragraf, perincian dan jabaran bagi kalimat utama tersebut akan menyertainya pada kalimat-kalimat yang berikutnya. Biasanya kalimat-kalimat yang menyertai kalimat utama yang berada di awal paragraf itu akan berupa perincian-perincian, contoh-contoh, keterangan-keterangan, deskripsi dan analisis.
2.        Kalimat utama di akhir paragraf
Kalimat pokok yang tempatnya di akhir paragraf terlebih dahulu diawali dengan kalimat-kalimat penjelas. Kalimat-kalimat penjelas itu dapat berupa perincian-perincian, analisis dan deskripsi, contoh-contoh, dan sejumlah pemaparan serta argumentasi.
3.        Kalimat utama di dalam paragraf
Kalimat utama juga memungkinkan terdapat di dalam paragraf. Jadi kalimat utama itu tidak terdapat di awal paragraf atau di akhir paragraf tetapi terletak di tengah paragraf. Memang agak sulit membayangkan paragraf dengan ciri yang demikian itu. Akan tetapi, dalam kenyataannya paragraf dengan model yang demikian itu memang dapat ditemukan di dalam bahasa Indonesia. Paragraf jenis ini juga disebut sebagai paragraf ineratif.
4.        Kalimat utama di awal dan di akhir paragraf
Kalimat utama yang dimaksud di sini merupakan bentuk pengulangan kalimat utama dari yang pertama dalam sebuah paragraf. Bilamana dikaitkan dengan alur pikir, paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf disebut sebagai deduktif, kalimat utama yang terletak di akhir paragraf disebut sebagai induktif, dan paragraf yang kalimat utamanya di awal dan di akhir paragraf disebut sebagai paragraf yang beralur pikir abduktif.
                      Dalam penulisan paragraf karya tulis ilmiah juga memiliki kalimat penjelas. Dikatakan kalimat penjelas karena tugas dari kalimat itu memang menjelaskan dan menjabarkan lebih lanjut ide pokok dan kalimat utama yang terdapat dalam paragraf tersebut. Dalam sebuah paragraf kalimat penjelas di bagi dua yakni kalimat penjelas mayor dan kalimat penjelas minor.[14]
1.      Kalimat penjelas mayor
Kalimat penjelas mayor (major support sentences) adalah kalimat penjelas yang utama. Kalimat penjelas yang utama itu bertugas menjelaskan secara langsung ide pokok dan kalimat utama  yang terdapat di dalam paragraf itu.
2.      Kalimat penjelas minor
Dikatakan kalimat penjelas minor karena kalimat penjelas itu tidak secara langsung menjelaskan ide pokok dan kalimat utama paragraf. Akan tetapi, kalimat yang menjelaskan kalimat penjelas mayor tertentu secara langsung.
               Selain kalimat utama dan kalimat penjelas dalam penulisan paragraf karya tulis ilmiah juga terdapat kalimat penegas. Kehadiran kalimat penegas di adalah sebuah paragraf bersifat tentarif, bersifat mana suka. Bilamana dirasa perlu dihadirkan, maka silakan saja dihadirkan di dalam paragraf anda tersebut. Maka, dalam konteks pemakaian paragraf yang demikian, kehadiran sebuah kalimat penegas di dalam paragraf, menjadi sangat tidak dipentingkan oleh penulis.[15]
4.      Penyusunan Alinea
Alinea pada hakikatnya adalah kesatuan pikiran yang lebih tinggi dan lebih luas ketimbang kalimat. Alinea merupakan himpunan kalimat yang bertalian secara utuh atau koherens dan kohesi dalam rangka membentuk ide atau gagasan. Dari sudut bentuknya, alinea terdiri atas alinea menjorok, yakni alinea yang awal kalimatnya disusun secara menjorok ke dalam, dan alinea merenggang, yaitu alinea yang awal kalimatnya disusun merata dengan batas tepi kiri tulisan. Ada pula alinea yang bentuknya merupakan variasi dari kedua bentuk yang telah disebutkan ini.
Apapun bentuk alinea yang dipilih, sebuah alinea harus mengandung satu gagasan utama atau topik pikiran yang wujudnya berupa kalimat topik. Selain berfungsi sebagai pengendali isi alinea, gagasan utama akan menentukan kalimat mana yang dapat dikelompokkan ke dalam suatu alinea, dan sekaligus akan menentukan informasi mana yang tidak dapat di masukan ke dalam alinea tersebut.[16]
Struktur sebuah alinea lazimnya terbagi atas (1) alinea pembuka, (2) alinea tubuh, (3) alinea penutup. Pertama, alinea pembuka adalah alinea yang diletakkan pada awal tulisan. Di dalam artikel ilmiah untuk jurnal, misalnya alinea pembuka berposisi sebagai alinea awal bagian pendahuluan (setelah abstrak dan nama diri penulis). Di dalam laporan penelitian, skripsi atau tesis, alinea pembuka berada di bagian awal tiap-tiap bab. Sementara itu, alinea pembuka di dunia jurnalistik, yang lebih dikenal dengan sebutan teras, lead, atau intro, terletak di bawah judul berita utama media massa cetak dan pada umumnya dicetak tebal atau kursif.[17]
Kedua, alinea tubuh, setelah berhasil menyusun alinea pembuka tugas kita berikutnya adalah menguraikan gagasan utama yang terdapat di dalam alinea pembuka tersebut ke dalam alinea-alinea berikutnya (alinea tubuh). Oleh karena itu, agar tidak membosankan atau membingungkan pembaca, susunlah alinea tubuh dalam kalimat yang pendek tanpa mengabaikan syarat pembentukan alinea yang baik.[18]
Ketiga, alinea penutup, di dalam karya tulis ilmiah alinea penutup terletak pada alinea akhir bagian simpulan. Fungsi utamanya memang menyimpulkan tulisan kita, namun upayakanlah membangun alinea penutup sedemikian rupa agar mengesankan pembaca. Upaya itu, misalnya jangan berpanjang-lebar dan perhatikan pula perbandingan yang proposional antara alinea pembuka, alinea tubuh, dan alinea penutup.
Patut pula dikemukakan, simpulan pada dasarnya adalah “laporan” mengenai apa saja yang telah kita temukan dalam penelitian kita dan bukan “ringkasan” mengenai karya tulis ilmiah kita.[19]

IV.             KESIMPULAN
Secara spesifikasi ragam bahasa ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Ragam bahasa ilmiah dapat juga diartikan sebagai sarana verbal yang efektif, efisien, baik, dan benar. Ragam ini wajib digunakan untuk mengomunikasikan proses kegiatan dan hasil penalaran ilmiah.
Fungsi dan kedudukan bahasa karya tulis ilmiah sangatlah penting untuk menunjang kredibilitas  suatu karya ilmiah. Kedudukan bahasa karya tulis ilmiah yaitu sebagai bahasa komunikasi.
Penulisan kata mempunyai peranan yang sangat penting dalam bahasa karena merupakan unsur utama dalam pembangun kalimat. Tanpa kata, tidak mungkin ada bahasa. Subjek dan predikat merupakan unsur utama dalam sebuah kalimat yang harus ada dalam sebuah kalimat, apabila tidak memiliki kedua unsur tersebut, maka bentuk kebahasaannya bukanlah kalimat, melainkan frasa, kumpulan kata. Dalam penulisan paragraf karya tulis ilmiah juga memiliki kalimat penjelas. Dikatakan kalimat penjelas karena tugas dari kalimat itu memang menjelaskan dan menjabarkan lebih lanjut ide pokok dan kalimat utama yang terdapat dalam paragraf tersebut. sebuah alinea harus mengandung satu gagasan utama atau topik pikiran yang wujudnya berupa kalimat topik.


V.                PENUTUP
Demikianlah makalah bahasa karya tulis ilmiah yang dapat penulis sampaikan, penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan guna memperbaiki makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.




[1] Sugihastuti, Rona Bahasa dan Sastra Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009,  hlm. 121
[2] Sugihastuti, Rona Bahasa dan Sastra Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009,  hlm. 123
[3] https://prezi.com/5ftz8vjgwech/ragam-bahasa-ilmiah/ pukul 14.07 tanggal 31 desember 2014
[4] Dr. Alek dan Prof. Dr. H. Achmad H.P., Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Prenada Media Group, 2011, hlm. 171
[5] Setiawan Djuharie, Suherli, Panduan menulis Karya Tulis Ilmiayah, Bandung: Yrama Widya, 2001, hlm. 30-31
[6] Kunjana Rahardi,Penyuntingan Bahasa Indonesia untuk Karang-Mengarang, Yogyakarta: Penerbit Erlangga, 2009, hlm.12
[7] Zaenal Arifin, Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Akademika Presindo, 2003, hlm. 32
[8] Zaenal Arifin, Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Akademika Presindo, 2003, hlm. 58
[9] Dra. Hj. Endang Rumaningsih, M.Hum., Cermat dan Terampil Berbahasa Indonesia, Semarang: RaSAIL, 2013, hlm. 170-171
[10] Dra. Hj. Endang Rumaningsih, M.Hum., Cermat dan Terampil Berbahasa Indonesia, Semarang: RaSAIL, 2013,  hlm.153
[11] Kunjana Rahardi,Penyuntingan Bahasa Indonesia untuk Karang-Mengarang, Yogyakarta: Penerbit Erlangga, 2009, hlm.129
[12]Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Erlangga,2009, hlm 101-103
[13] Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Erlangga,2009, hlm 10105-108
[14]Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Erlangga,2009, hlm 110-111
[15]Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Erlangga,2009, hlm 111
[16]Wahyu Wibowo, Tata Permainan Bahasa Karya Tulis Ilmiah, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012, hlm 122-123
[17]Wahyu Wibowo, Tata Permainan Bahasa Karya Tulis Ilmiah, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012, hlm 130-131
[18]Wahyu Wibowo, Tata Permainan Bahasa Karya Tulis Ilmiah, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012, hlm 135
[19]Wahyu Wibowo, Tata Permainan Bahasa Karya Tulis Ilmiah, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012, hlm 139



DAFTAR PUSTAKA

Alek dan Achmad H.P., Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Prenada Media Group, 2011.
Endang Rumaningsih, M.Hum., Cermat dan Terampil Berbahasa Indonesia, Semarang: RaSAIL, 2013.
Kunjana Rahardi, Penyuntingan Bahasa Indonesia untuk Karang-Mengarang, Yogyakarta: Penerbit Erlangga, 2009.
Setiawan Djuharie, Suherli, Panduan menulis Karya Tulis Ilmiayah, Bandung: Yrama Widya, 2001.
Sugihastuti, Rona Bahasa dan Sastra Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Wahyu Wibowo, Tata Permainan Bahasa Karya Tulis Ilmiah, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012.
Zaenal Arifin, Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Akademika Presindo, 2003.
https://prezi.com/5ftz8vjgwech/ragam-bahasa-ilmiah/ pukul 14.07 tanggal 31 Desember 2014.








BIOGRAFI M. Rikza Chamamy, MSI


M. Rikza Chamami, MSI lahir di Desa Krandon Kota Kudus pada tanggal 20 Maret 1980 dari pasangan Bapak Chamami Tolhah dan Ibu Masyifah Masruhan. Dari pernikahannya dengan Yolha Ulfana, beliau dianugerahi dua anak, yaitu Iqlima Naqiyya dan M. Ijlal Azamy. Pendidikan beliau dimulai dari TK Nawa Kartika Langgarndalem Kudus selama dua tahun, selanjutnya beliau melanjutkan ke SD di Yayasan yang sama, SD Nawa Kartika selama 6 tahun. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Qudsiyyah Kudus dan mengulang lagi di kelas 5. Setelah tamat kelas 6 MI, beliau melanjutkan ke MTs dan MA di almamater yang sama. Sedangkan pendidikan non formal, beliau tempuh di Madrasah Mu’awanatul Muslimin Kudus, Pondok Pesantren Darun Najah Jrakah Tugu Semarang dan Kursus Bahasa Inggris LBPP LIA Candi.
Program S.1 ditempuh beliau kurang dari empat tahun di IAIN Walisongo Semarang jurusan Kependidikan Islam (KI) dan Program Minor Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan mendapat predikat Mahasiswa Terbaik di Jurusan KI tersebut. Skrispi yang disusunnya setebal 260 halaman berhasil menjadi skripsi terbaik versi Puslit Award. Setelah itu, pada tahun 2004 beliau berhasil menyandang gelar Master Studi Islam (MSI) di Program S.2 Studi Pendidikan Islam IAIN Walisongo Semarang dengan predikat cumlaude dan sebagai mahasiswa terbaik. Sekarang beliau tengah menjalankan pendidikan S.3nya di Universitas Islam Negeri Walisongo.
Saat ini beliau  aktif sebagai dosen di UIN Walisongo Semarang. Beliau mengajar di berbagai jurusan (KI/ PGMI/ Tadris / PBA/ PAI) dan dalam bidang mata kuliah yang berbeda, seperti PSI (Pendidikan Studi Islam), IBJ (Islam dan Budaya Jawa) dan KTI (Karya Tulis Ilmiah). Bukan hanya itu, beliau juga aktif menulis di berbagai media cetak, seperti menulis artikel (Suara Merdeka, Wawasan, Radar Kudus, Radar Semarang, Solo Pos, SKM Amanat, Edukasi, Newsletter Penyiaran Kita, dll), artikel ilmiah (di beberapa Jurnal: Studi Islam, Nadwa, Edukasi, Pendidikan Islami, Palestren, Sawwa, Harmoni, Dewaruci dll), menerbitkan buku yang berjudul “Mengendalikan Syahwat Politik Kiai NU” (2004); “Demi IPNU” (2007); “Pendidikan Kaum Sarungan” (2009); “Pendidikan Neomodernisme” (2010); “Inspirasi Spirit Isra’ Mi’raj” (2010), serta menjadi editor buku “ Mengatur Media Penyiaran” (2007); Membangun Keilmuan Pendidikan Islam” (2010).
Beliau disebut sebagai aktifis tulen yang mempunyai prinsip selalu memadukan ilmu dan sosial. Organisasi yang pernah ditekuni yaitu Polisi Keamanan Sekolah (PKS), Saka Bhayangkara, Kader Penegak Disiplin KODIM Kudus, Ikatan Pelajar Madrasah Aliyah Salafiyah (IPMAS), Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi, Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT, Keluarga Mahasiswa Kudus Semarang (KMKS), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Poros Pelajar, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Badan Amil Zakat (BAZ), LSM Pusat Kajian Multikultur (PUSAKA), Ikatan Alumni Madrasah Qudsiyyah (IKAQ), Mutakharijin Qudsiyyah Semarang (MAQDIS), Ikatan Alumni Kependidikan Islam (IKA-KI), Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa (PPIB) dan Lakpesdam NU.
Kegiatan akademik berupa diklat dan workshop pengembangan keilmuan aktif beliau ikuti. Salah satu diklat profesional yang diikuti adalah “pendidikan dan Pelatihan Fasilitator Peningkatan Kompetensi Pegawai PAI pada Sekolah / Madrasah” di Jakarta selama sepuluh hari. Kunjungan ke University Technology Malaysia (UTM) di Johor Baru Malaysia pernah dilakukan dalam rangka penandatanganan Letter of Intens (LoI) antar Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dengan Fakulti Pendidikan UTM, Program “Singapore Outing” LBPP LIA Candi juga diikutinya di Hotel Parc Sovereign Albert Street Singapura.

GURU PROFESIONAL MELAWAN MASYARAKAT EKONOMI ASEAN


Arus globalisasi yang tak terhindarkan telah memacu banyak perubahan di berbagai ranah kehidupan. Termasuk pada tingkat regional Asia Tenggara. Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN telah mendeklarasikan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economis  Community (AEC) yang merupakan perwujudan dari ASEAN Vision, bersama dengan ASEAN Security Community (ASC) dan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) yang akan dilaksanakan secara penuh pada akhir tahun 2015 mendatang. Sehubungan dengan hal itu, tujuan yang ingin dicapai oleh ASEAN Community melalui ketiga kebijakan tersebut adalah untuk meningkatkan kerjasama antar negara ASEAN, baik dalam bidang ekonomi, keamana, sosial maupun budaya.

Melalui MEA, akan terjadi pasar bebas diantara negara-negara se-Asia Tenggara, akan meningkatkan interaksi antar negara anggota ASEAN melalui banyak kerjasama  dalam berbagai bidang. MEA akan menjadikan ASEAN seperti sebuah aliansi negara yang besar. Masyarakat wilayah tersebut akan mempunyai akses masuk yang mudah ke luar negeri di kawasan Asia Tenggara dengan tanpa hambatan yang berarti. Dengan kata lain, MEA dimaksudkan untuk membawa ASEAN lebih dekat dengan masyarakatnya, karena dalam penerapannya akan melibatkan masyarakat negara-negara anggota ASEAN dalam berbagai program ASEAN. Sehinga pada masa mendatang, ASEAN bukan lagi hanya didominasi oleh kalangan pejabat pemerintah dan diplomat, namun juga seluruh masyarakat negara-negara anggota.
Sebagai salah satu penggagas pembentukan komunitas ASEAN (ASEAN Community), Indonesia perlu melakukan pendalaman materi terkait dengan program yang dicanangkan. Agar dalam implementasinya Indonesia memiliki bekal yang cukup  untuk menghadapi berbagai hambatan dalam persaingan pasar bebas antar negara-negara ASEAN. Secara langsung maupun tidak langsung, implementasi tersebut akan berdampak pada kehidupan masyarakat Indonesia di berbagai aspek. Dengan demikian aspek utama yang perlu didalami adalah pendidikan.
Pendidikan merupakan aspek penting yang bisa menghasilkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Kemajuan suatu negara ditentukan oleh bagaimana pendidikan tersebut dilaksanakan. Guru sebagai komponen penting dalam pendidikan berperan sebagai pengajar dan pendidik bagi siswa. Oleh sebab itu, seorang guru mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mencapai kemajuan pendidikan bangsa. Guru dengan profesionalitas tinggi dan mau berdedikasi terhadap pendidikan, maka akan menghasilkan pendidikan yang berkualitas dan mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas juga.
Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional. Artinya bahwa setiap pekerjaan hendaknya dikerjakan oleh seseorang yang mempunyai keahlian dalam bidangnya atau profesinya (Mujtahid:2011). Karena itu, seorang guru harus kompeten, mengerti, dan memahami peserta didik, serta menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Selain itu, seorang guru juga harus memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam kesehariannya. Dengan begitu seorang guru dapat dikatakan memiliki sikap integritas profesional.
Dalam hal mencapai keprofesionalan seorang guru perlu memeperhatikan komptensi-kompetensi guru sebagai penunjangnya, yaitu kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional. Tentunya terdapat kendala-kendala yang menjadi hambatan di dalam prosesnya, baik dari faktor instrinsik maupun ekstrinsik. Faktor instrinsik berasal dari diri guru itu sendiri yang meliputi kemauan seorang guru untuk meningkatkan kualitas diri sebagai pendidik. Sedangkan faktor ekstrinsik berasal dari luar diri guru tersebut, bisa berupa keadaan ekonomi maupun fasilitas yang kurang memadahi. Selain itu, penguasaan bahasa internasional yaitu bahasa Inggris bagi guru di Indonesia menjadi kendala yang harus diperhatikan, karena apabila hal tersebut diabaikan maka posisi guru Indonesia akan mudah terganti dengan guru-guru dari luar.
Di Era MEA 2015, mau tidak mau para guru di Indonesia harus siap bersaing dengan guru-guru dari luar Indonesia. Karena melalui pasar bebas,  tenaga kerja dari luar akan bebas mencari tempat kerja antar lintas  negara, termasuk menjadi guru di Indonesia. Oleh karena itu, guru di Indonesia harus mempersiapkan diri dengan meningkatkat kualitasnya sebagai pendidik yang profesional agar siap menghadapi persaingan diantar negara-negara Asia Tenggara. 

NAMA                                    : DINA FITRIYANI (123911042)
TUGAS                                   : MENULIS ARTIKEL KORAN
MATA KULIAH                    : KARYA TULIS ILMIAH
DOSEN PENGAMPU           : M. RIKZA CHAMAMI, M.SI



Rabu, 03 Desember 2014

resensi : STUDI ISLAM DARI WAKTU KE WAKTU


STUDI ISLAM DARI WAKTU KE WAKTU

Judul Buku      : Studi Islam Kontemporer
Penulis             : M. Rikza Chamami, M.SI
Penerbit           : Pustaka Rizki Putra
Tahun              : cetakan 1, Desember 2012
Tebal               : 228 halaman
Harga              : Rp 25. 000, 00
Peresensi         : Dina Fitriyani


Islam sebagai agama yang diproduk oleh Tuhan tidak mungkin untuk diketahui eksistensi riilnya tanpa keberanian untuk mencarinya. Mencari otentitas Islam itulah dibutuhkan keberaniandengan pendekatan studi agama. Adapun salah satu pendekatan yang mampu membedah wujud Islam adalah dengan fenomenologi. Secara etimologis, fenomenologi berasal dari kata fenomen yang artinya gejala, yaitu suatu hal yang tidak nyata dan semua. Juga dapat diartikan sebagai ungkapan kejadian yang dapat diamati  lewat indera.
Melalui buku Studi Islam Kontemporer ini, penulis berusaha untuk menjelaskan tentang beberapa kajian agama yang di bahas melalui studi sejarah, fenomenologi, budaya, pendidikan dan korelasi-korelasinya dengan tokoh dunia. Buku ini berusaha memaparkan perjalanan Islam dalam mengarungi kejayaan lahirnya peradaban maju yangh ditandai dengan berkembangnya aspek ilmu pengetahuan pada masa dinasti Abbasiyah sampai pada kondisi kemunduran islam masa kini.
Secara garis besar buku ini mengingatkan kembali secara nyata bagaimana umat Islam harus sadar dan bangkit dengan melakukan studi kontemporer sesuai perkembangan di era sekarang ini. Buku ini berusaha merefleksikan bahwa umat islam dulu pernah punya apa yang namanya kejayaan. Dan karya ini bisa membangkitkan semangat keilmuan bagi para pembaca untuk terus mengembangkan intelektualnya.
Buku ini disajikan dengan bahasa ilmiah yang lugas. Buku ini layak dibaca oleh para guru pendidikan Agama, mahasiswa yang mengambil Studi Islam maupun umum, bahkan layak dibaca oleh  pemerhati dunia pendidikan Agama. Buku ini mengajak pembacanya untuk flash back pada masa kejayaan Islam zaman dulu, sebab di dalamnya banyak memberi informasi tentang studi Islam sejak zaman dahulu hingga sekarang mulai dari sudut pandang Islam yang beragam, baik baik historis, filosofis, normatif dan rasionalis.
Akan tetapi, suatu karya tidak  mungkin terlepas dari kekurangan atau kelemahan di dalamnya. Dalam buku ini, bahasa ilmiah yang digunakan penulis selain memberikan nilai plus juga mengandung nilai minus. Hal tersebut dikarenakan kebahasaan yang terlalu rumit menjadikan pembaca sedikit kesulitan dalam memahami apalagi bagi masyarakat awam akan menjadikan kelinglungan bahasa. Walaupun begitu, para penikmat tulisan tidak perlu ragu untuk membaca karya hebat penulis muda ini, karena banyak sekali khazanah atau pengetahuan baru tentang Islam yang dapat dipelajari dan dikaji.