Senin, 22 Juni 2015

BEGAWAN CIPTA WENING



BEGAWAN CIPTA WENING
Nama: Dina Fitriyani
NIM: 123911042
Mata kuliah : Islam dan Kebudayaan Jawa
Dosen pengampu: M. Rikza Chamami, M. SI

Prabu Niwatakawaca adalah seorang raja raksasa di Ima-imantaka yang ditakuti oleh banyak orang karena kekuatan sangat hebat. Pada suatu ketika, ia hendak meminang seorang bidadari di Suralaya (tempat dewa-dewa) yang bernama Dewi Supraba, tetapi keinginannya tersebut ditolak oleh Hyang Indra. Karena penolakan itu, Prabu Niwatakawaca sangat murka, dan ia hendak merusak Keandran (tempat betapa Indra).
            Pada saat kejadian tersebut, Raden Arjuna yang bergelar Begawan Mintaraga sedang bertapa di bukit Indrakila. Karena kekhawatiran Betara Indra terhadap Arjuna jika ia dimintai untuk membantu melawan Prabu Niwatakawaca sang raja raksasa, maka Betara Indra menitipkan Bidadari-bidadarinya untuk menggoda Arjuna supaya tapanya gagal. Akan tetapi bidadari-bidadari itu tidak berhasil karena Arjuna tidak tergoda, malah sebaliknya mereka yang tergoda akan ketampanan Arjuna.
            Seorang raksasa sakti bernama Mamangmurka yang merupakan duta dari Prabu Niwatakawaca datang ke pertapaan Arjuna hendak membunuh Arjuna. Setiba di pertapaan tersebut, ia merusak daerah pertapaan. Setelah hal itu diketahui oleh Arjuna, kemudian Arjuna menyumpahi pada Mamangmurka, katanya: “yang kamu (Raksasa) lakukan sama seperti seekor babi hutan”. Lalu seketika juga raksasa tersebut berupa menjadi babi hutan dan diikuti oleh Hyang Indra dengan menggati rupan seperti seorang pendeta bernama Resi Padya dan berhajat akan membunuh babi hutan itu. Ia melepaskan anak panahnya dan mengenai tubuh babi hutan tersebut, Arjuna mengikuti babi hutan itu dan memanahnya juga.
            Kejadian tersebut menimbulkan selisih antar keduanya, masing-masing mengakui bahwa anak panah yang mengenai binatang itu adalah anak panahnya. Tetapi Hyang Indra sebenarnya sangat bersukacita karena Hyang Indra dapat memberatkan Arjuna dan meminta bantuan untuk memusnahkan seorang raja Raksasa yang hendak meminang salah satu bidadarinya. Pada akhirnya permintaan Hyang Indra dikabulkan oleh Arjuna, Prabu Niwatakawacapun dibinasakan oleh Arjuna.
            Sebagai hadiah, Arjuna diangkat sebagai Raja di Kaindran selama sehari lamanya. Menutur perhitungan Dewa sehari dialam manusia itu sama dengan sebulan di Kaindra. Arjuna mendapat gelar sebagai Prabu Kariti.

LAPORAN HASIL KUNJUNGAN KE MUSEUM RONGGOWARSITO SEMARANG




LAPORAN HASIL KUNJUNGAN KE MUSEUM RONGGOWARSITO SEMARANG

Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu M. Rikza Chamami, M. SI



Disusun oleh:
Dina Fitriyani              (123911042)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015

I.                   PENDAHULUAN
Museum Ronggowarsito terletak di Jl. Abdulrachman Saleh Semarang, museum ini merupakan bangunan dua lantai yang menyimpan koleksi kerajinan dan seni Jawa, foto dokumenter, keris, lukisan, dan warisan budaya Jawa lainnya. Museum Ronggowarsito Semarang dilengkapi auditorium, perpustakaan, laboratorium, gudang dan taman. Di museum ini ada empat gedung utama, masing-masing dua lantai. Di delapan ruang gedung yang luasnya masing-masing 400 m2 itu terdapat sekitar 40.000 koleksi, dari mulai jaman prasejarah hingga jaman setelah proklamasi kemerdekaan.
Gedung A lantai 1 disebut Ruang Sejarah Alam dengan koleksi Kosmologis, Geologi dan Geografika, serta Ekologi. Sedangkan di lantai 2 terdapat ruang Palaeontologi, Palaeobotani, Paleozoologi, dan Palaeoantropologika. Gedung B disebut Ruang Sejarah Peradaban Kebudayaan, dengan koleksi budaya Hindu, Budha, Islam, Eropa dan kraton. Gedung B lantai 2 terdapat koleksi benda purbakala dari jaman batu, jaman logam, dan peradaban Polinesia. Gedung C merupakan Ruang Sejarah Perjuangan Bangsa Dan Etnografi. Sedangkan Gedung D merupakan Ruang Era Pembangunan, dan Gedung D Lantai 2 merupakan Ruang Kesenian.

II.                HASIL KUNJUNGAN
Didalam museum ini ada 4 gedung, pertama gedung A, gedung B, gedung C dan gedung D.Gedung A sebagai ruang Geologi dan Paleontologi.Lantai I adalah ruang geologi yang menampilkan gunungan blumbangan, meteorit, material gunung berapi, stalaktit-stalakmit dan batu mulia.Lantai II berisi kerangka gajah Elephas, fosil gading gajah purba (stegodon) yang panjangnya lebih dari 3 m, replika fosil pithecanttropus erectus VIII, fosil tanduk kerbau, lukisan tentang kehidupan reptil.Gedung B sebagai ruang Sejarah Hindu-Budha , Islam dan kolonial dan ruang keramik dan batik.Lantai I sebagai ruang sejarah Hindu-Budha , Islam dan kolonial yang menampilkan arca Ganesha terbesar dimuseum, arca Bodhisatwa, pintu Paduraka Masjid Kudus, Meriam, Genta Kapal, dan Tombak Maling.Lantai II ruang keramik dan batik menampilkan koleksi keramik dari Dinasti Ming abad XIV, keramik Belanda dan Inggris, gerabah lokal dan batik dar beberapa kabupaten di Jateng.Gedung C adalah galeri bersejarah perjuangan bersenjata pada lantai I.Pada lantai I ini dibagi menjadi dua bagian: koleksi semasa perjuangan fisik dan diploma.Lantai II sebagai ruangan yang mencakup ruang teknologi mata pencaharian, ruang teknologi industry, transformasi, ruang teknologi kerajinan, dan rumah tinggal.Yang terakhir gedung D sebagai galeri pembangunan pada lantai I, galeri ini dikelompokkan kedalam ruang pembangunan, ruang tradisi Nusantara.Lantai II sebagai galeri kesenian yang dipisahkan menjadi seni pagelaran, seni pertunjukkan dan seni musik.
Peninggalan budaya dijawa antara lain candi, wayang, prasasti, keris dan  blencong Candi merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat menyembah para dewa pada Hindu-Budha.Candi-candi yang berada di Jawa antara lain Candi Pawon, Candi Mendhut, Candi Dieng, dan Candi Cetho.Candi Pawon terletak di desa Borobudur , kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, propinsi Jawa Tengah.Candi yang mempunyai nama lain Candi Prajanalan  ini lokasinya sekitar 2 km kea rah timur laut dari Candi Borobudur dan 1 km kearah Tenggara dari Candi Mendut.Candi Mendut terletak di desa Mendut, kecamatan Mungkid, kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 38 km kearah barat laut Yogyakarta.Lokasinya hanya 3 km dari Candi Borobudur, yang mana candi Budha ini diperkirakan mempunyai kaitan erat dengan Candi Pawon dan Candi Mendut.Ketiga candi tersebut terletak pada satu garis arah selatan-utara.Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Kawasan Candi Dieng menempati pada daratan pada ketinggian  2000 m diatas permukaan laut, memanjang arah utara-selatan sekitar 1900 m dengan lebar sepanjang 800m.Candi Cetho merupakan sebuah candi bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit Akhir pada Abad ke-15 , terletak pada desa Gumeng, wilayah kecamatan Jenawi dengan ketinggian 1400 m dpl.Mempunyai nilai mistik yang tinggi dan biasa dipergunakan sebagai tempatperenungan diridan meditasi.Dikelilingi hamparan perkebunan teh berada disekitarnya serta kesejukan udara yang akan memberikan nuansa kembali ke alam yang kental.
Prasasti Temanggung berasal dari desa Temanggung yang berbahan batu, berasal dari abad VIII M.Tulisan dengan huruf dan bahasa Jawa Kuno, isi prasasti tersebut sebagai berikut: Swasti saka  warsasita 785 sada masa pancemi krsnapaksa ,Paniruan-wegai buda wara, Uttar sada neksira sabha, Gya yoga tatkala pitama ………… (pecah).Prasasti SAg PAMGAT SWAg asal dari desa Jetak , Mungkid kabupaten Magelang.Prasasti ini ditulis melingkar ( 3 baris ) dibagian atas silinder menggunakan huruf dan bahasa Jawa Kuno.Isi prasasti sdbagai berikut: Swasti saka warsasita  803 asujimasa ekadisi suklapaksa  waruku kaliwuan sukraw’ ra, Dhanistha naksatra drtiamwata yoga tatkala sag pamgat swan man ma.Prasasti Nandi asal kabupaten Batang  merupakan aspek siwa dalam bentuk thejomorphic, yaitu penggambaran tokoh dalam bentuk binatang, dalam hal ini adalah binatang lembu.Didalam Hindhu, binatang sering digambarkan dalam hubungannya sebagai “Vahana” dewa  (kendaraan dewa). Pada bagian dasar ( lapik ) arca nandi tersebut terdapat tulisan pendek / prasasti menggunakan huruf dan bahasa Jawa Kuno.
Wayang adalah buah karya seni adi luhur bangsa Indonesia.Ia merupakan wujud hasil olah sistem gagasan perilaku masyarakat Indonesia.Beberapa prasasti telah membuktikan bahwa pertunjukan wayang telah ada pada jaman kuno.Misalnya empat lempengan tembaga  yang ditemukan di Bali. Lempengan ini berangka tahun 980 Saka ( 1058 M )  dan isinya telah disalin oleh Van Der Tuuk dan Dr.Brandes. Lempengan ini menyebutkan kata ringgit.Kata ringgit ini sebagai sinonim dari kata wayang .Sementara itu, relief pada candi seperti relief di candi Prambanan , candi Panataran juga ditemukan jejak dekoratif bentuk wayang mirip wayang beber.
Wayang kulit dapat penghargaan UNESCO sebagai warisan dunia pada tanggal 7 Nopember 2003.Macam-macam wayang yaitu  wayang sadat, wayang warta,wayang budha, dan lain-lain.Wayang sadat adalah wayang yang mengangkat kisah Babad Tanah Islam di Tanah Jawa, wayangnya berbubasa seperti orang islam.Wayang warta merupakan wayang yang mengisahkan kisah-kisah pada kitab Injil.Wayang Budha mengisahkan Sidarta Gautama.
Keris merupakan senjata khas masyarakat Jawa dan kalangan masyarakat Jawa.Keris dianggap sebagai benda leluhur.Namun masyarakat kurang memahami senjata tradisional tersebut.Dengan perkembangan zaman, banyak masyarakat Jawa tidak mengetahuimsejarah keris, makna sebenarnya, fungsi keris dan dan bagaimana menempatkan keris dengan tepat sehingga banyak yang disalahgunakan.
Blencong merupakan alat penerangan untuk pertunjukan wayang pada masa lampau yang menggunkan bahan bakar minyak kelapa.Blencong ini terbuat dari kayu berukir ataupun perunggu, dengan lubang ditengah untuk menaruh minyak dan sumbu.Namun blencong sekarang jarang digunakan karena dianggap kurang praktis dan sinarnya kurang terang.
     Sedangkan peninggalan budaya yang terkait dengan islam antara lain menara masjid Kudus, sirap atap masjid Demak, dan seni hias Terakota.
     Menara masjid Kudus ini berada dalam satu kompleks dengan masjid kudus, tepatnya disamping kanan masjid.Arsiteknya mengatur  pada bangunan pura (seperti di Bali).Tinggi menara ini 18 m. Menara didirikan bersamaan dengan dibangunnya masjid kudus pada abad ke XVI M. Masjid kudus terletak di desa Kauman , kabupaten Kudus.
     Sirap atap masjid Demak, atap bersusun tiga masjid Demak melambangkan  orang yang beriman dimulai dari mukmin, muslim, dan muhsin, serta islam dan ihsan.Juga melambangkan tiga tingkatan dalam tasawuf yang dari bawah keatas melambangkan  syari’at,tarekat , dan ma’rifat. Pada waktu dibangun atap masjid demak terbuat dari welit, kemudian tahun 1710 Paku Buana I memerintahkan untuk mengganti welit dengan sirap dari kayu. Dalam tradisi Jawa atap hanya boleh digunakan pada atap-atap rumah bangunan.sirap terbuat dari kayu jati yang tua.
     Seni hias terakota adalah salah satu kekayaan dan warisan budaya masyarakat Jawa Tengah yang tidak ternilai harganya.Keberadaannya sudah cukup lamadan telah member warna serta menghiasi kehidupan masyarakat, seni terakota terbuat dari tanah liat yang dibakar, beragam motif sulur. Seni pada masa islam abad ke XV. Fungsinya ialah untuk hiasan bangunan.

III.             PENUTUP
Demikianlah laporan ini saya susun dan tentunya jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan demi penyusunan laporan selanjutnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

KEBUDAYAAN JAWA PRA ISLAM (MASA HINDU-BUDHA)



KEBUDAYAAN JAWA PRA ISLAM (MASA HINDU-BUDHA)

MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu: M. Rikza Chamami, M. SI

Disusun Oleh:

Ahmad Syamsul Bahri            (133311070)
Dina Fitriyani                          (123911042)
Kholifah Istiqomah                 (123911056)
Novi Arifatul Mufidah           (123911072)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015


I.                   PENDAHULUAN
Peran agama-agama di Indonesia memiliki peranan sangat panjang dalam kehidupan bermasyarakat. Indonesia sering disebut negara kaum beragama, religius, dibuktikan dari sekian banyak agama yang diyakini masyarakat.  Jauh sebelum datangnya agama-agama besar seperti Islam, Kristen, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha, bangsa Indonesia menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Inilah yang oleh Karen Armstrong (2002) disebut monoteisme primitive, percaya kepada Tuhan yang Esa.
Ada dua hal yang perlu dicatat sehubungan dengan adanya islamisasi di Jawa. Pertama, agama Hindu, Budha, dan kepercayaan lama telah berkembang lebih dahulu jika dibandingkan dengan agama Islam. Agama Hindu dan Budha dipeluk oleh elit kerajaan, sedangkan kepercayaan asli yang bertumpu pada animisme dipeluk oleh kalangan awam. Walaupun ketiganya berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada suatu titik.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana Masuknya Hindhu-Budha yang Pertama di Jawa?
B.     Bagaimana Kepercayaan Jawa pada Masa Hindhu-Budha?
C.     Bagaimana Budaya Jawa pada Masa Hindhu-Budha?

III.             PEMBAHASAN
A.    Masuknya Hindhu dan Budha yang Pertama di Jawa.
Sejarah mencatat bahwa di Jawa pernah mengalami “mutasi pertama” atau lebih tepatnya disebut indianisasi. Sebenarnya kemungkinan adanya pengaruh India tidak pernah terdeteksi oleh para peneliti Eropa sebelum awal abad ke-19. Raffles mengangkat indianisasi menjadi topik yang menarik dengan mengaitkan antara Jawa dan India. Gagasan indianisasi ini dilanjutkan oleh para peneliti Belanda yang lainnya, yaitu: J.LA. Brandes (1957-1905), H. Kern (1833-1917), N.J. Krom (1883-1945), dan W.F. Stutterheim (1892-1942). Mereka berjasa dalam menginterpretasikan masa lampau Jawa berdasarkan pengetahuan tentang India kuno. Sekarang perlu dipertanyakan apakah tradisi Jawa masih menyimpan bekas-bekas persentuhan dengan Hindhu atau India. Terdapat paling sedikit tiga petunjuk untuk mengapresiasi bagaimana persentuhan budaya tersebut, yang telah meresap dalam mentalitas masyarakat Jawa.
Pertama, asal-usul suku bangsa Jawa yang telah dijelaskan oleh C.C Berg dalam bentuk legenda tentang seseorang yang bernama Aji Saka. Ia dikisahkan sebagai seorang muda putra. Aji Saka datang di tanah Jawa, dan mendapatkan sebuah negri yang bernama Medangkamulan, yang kini berada di daerah Grobogan, Purwodadi. Negeri ini dikuasai oleh seorang raja pemakan daging manusia yang bernama Dewata Cengkar. Aji Saka menawarkan diri menjadi makanan raja dengan syarat ia akan menerima satu bidang tanah seluas destarnya sebagai gantinya. Tetapi ia terkejut karena destarnya Aji semakin lama semakin lebar. Akhirnya DewataCengkar menyerakan diri dan melepas kekuasaanya kepada Aji pada tahun 78 masehi.
Kedua, penafsiran indianisasi yang lain, yang kurang bersifat historis diberikan dalam naskah jawa abad 16, tulisan itu menjelaskan tentang asal mula Bhatara Guru (Siva) yang pergi ke Gunung Dieng untuk bersemedi dan meminta kepada Brahma dan Wisnu supaya pulau jawa diberi penghuni. Brahma menciptakan kaum laki-laki dan wisnu menciptakan kaum perempuan. Lalu semua dewa memutuskan untuk menetap di bumi dan memindahkan Gunung Meru yang sampai saat itu masih berada di  Negeri Jambudvipa atau di India. Sejak saat itu gunung tertinggi yang menjadi lingga dunia atau pusat dunia itu tertanam di pulau Jawa.
Ketiga, sebagai kelanjutan dari teori mutasi perlu dicacat bahwa banyak nama tempat di pulau Jawa yang berasal dari bahasa Sanskerta, yang membuktikan adanya kehendak untuk menciptakan kembali geografi India yang dianggap keramat itu. Bukan hanya hanya gunung-gunungnya tetapi juga kerajaan-kerajaan  yang namanya dipinjam dari Bahabarata. Demikian pula relief-relief candi Borobudur  tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui risalah India Mahayana. Namun antara India dan Jawa tidak bisa disamakan.[1]
Secara artefaktual, beberapa peninggalan agama Hindu dan Budha adalah terawal yang dijumpai di Nusantara. Di Jember pernah dijumpai arca Budha batu yang berukuran sekitar 3 m dalam sikap berdiri. Dua arca Wisnu dijumpai pula di daerah Batujaya-Karawang, arca itu berukura kecil dan terbuat dari batu hitam, bahan yang tidak dikenal di wiliyah tersebut.[2]
           
B.     Kepercayaan Jawa pada Masa Hindu-Budha
Kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular berisikan pesan keagamaan yang digubah dari Boddhakawya sehingga berkesan bahwa ia adalah seorang Budha, yang memuja dewata/Ad-Budha. Namun dalam kakawin lain Uttrakanda yang ditulisnya, jelas merupakan pemujaan kepada dewa Wisnu. Tradisi memuja gunung merupakan kepercayaan pada kekeramatan tempat-tempat tinggi yang ada hubungannya dengan pemujaan arwah nenek monyang yang terdapat sejak lama di Asia Tenggara pada umumnya, sebelum kedatangan Hindu Budha di Jawa.[3]
Masyarakat Jawa mempunyai toleransi keagamaan yang sangat besar. Mereka menganggap sepadan antara Budha dan para Jiuna lainnya dengan Siwa dan para dewa lain. Masyarakat Jawa mempercayai dalam kisah Porusada dengan Sutasoma, bahwa Porusada telah berubah menjadi Maharudia atau Siwa, lalu ia marah menjadi Kala, yaitu api yang akan membakar dunia. Cemas akan hal ini para dewa turun dan membujuk Siwa dengan menjelaskan bahwa Siwa tak mungkin mengalahkan Sutasoma yang merupakan penjelmaan Budha. Karena keduanya tidak bisa dipisahkan. Dalam praktek keagamaannya, seorang pengikut agama Siwa ataupun Budha haruslah mengetahui kedua jalan atau yoga. Artinya, seorang pendeta Budha akan gagal (tiwas) kalau tidak mengetahui jalan kesiwaan, begitupula sebaliknya. Karena jalan yang harus dilalui untuk menyembah Hyang Agung adalah seperti jalan menuju puncak gunung yang dapat dicapai dari segenap penjuru.
Kepercayaan keagamaan masyarakat Jawa yang terungkap melelui kakawin pada saat tertentu tampak berkembang dalam evolusi yang lamban. Namun, yang pasti adalah kedua ideology yang baru, baik Hindhu dan Budha rupanya lebih rukun antara satu dengan yang lain daripada di India.[4]

C.    Budaya Jawa pada Masa Hindu Budha
Pada dasarnya budaya di masa Hindu-Budha merupakan manifestasi kepercayaan Jawa Hindu-Budha semenjak datangnya Hindu-Budha di tanah Jawa. Kegiatan tersebut berupa upacara tradisi yenga sebagian masih dapat dilihat keberadaannya sampai saat ini. Upacara tersebut dilakukan untuk memperoleh kesejahteraan dari para Dewa.
Di masa Majapahit para agamawan melaksanakan ritual kerajaan dengan baik, dan menjaga candi-candi yang kebanyakan merupakan tempat pemujaan leluhur Raja. Kraton merelakan hasil surplus dari tidak kurang 27 bidang tanah milik otonom (sima switantra), antara lain di Kwak dekat Magelang, di Yogya dan Ponorogo yang dianugrahkan kepada rohaniwan agama Siva dan Budha ntuk memohonkan kesejahteraan. Itu belum terhitung tanah lain yang dinamakan tanah milik bebas (dharma lepas) untuk menjadi drwya hyang atau bwat hyang (pajak untuk dewata). Bila disatu pihak para Raja membebaskan tanah milik komunitas agamawan dari pajak, maka di pihak lain mereka memungut pajak dan menuntun kerja rodi dari semua warga desa lainnya yang langsung berada di bawah kekuasaannya. Keluarga Raja tak mungkin hidup tanpa adanya pajak kerajaan (drwya aji) dan tugas-tugas wajib untuk Raja (gawai aji) yang mestinya tidak dikenakan pada sima.
Masyarakat Jawa pada masa Hindu tampaknya berlapis tiga. Pertama, terdiri dari kaum agamawan Hindu-Budha yang memiliki tanah bebas pajak. Kedua, keluarga Raja yang berkuasa atas para raka (penguasa) lokal dengan bantuan kaum agamawan, dan yang Ketiga adalah masyarakat desa biasa yang dipungut pajak oleh Raja dengan perantaraan mangilala drwya aji atau pameran pajak. Dengan memperbanyak jumlah sima para Raja berkepentingan menjaring dukungan agamawan, sedangkan dari sudut kekayaan material, mereka juga berkepentingan untuk mengembangkan budidaya padi.
Ritual tua lainnya di Jawa maupun di Pasundan untuk memperoleh kesejakteraan ekonomis adalah upacara wiwit (permulaan musim tanam) yang diwujudkan pada pemujaan dewa padi, Dewi Sri. Sekalipun nama Sri berasal dari India, mitos itu terdapat di seluruh Nusantara samapai di pulau-pulau yang sama sekali tidak tersentuh pengaruh India. Versinya berbeda-beda, tetapi ceritanya sederhana: Sri telah dikurbankan, dan dari berbagai bagian tubuhnya keluarlah tanaman-tanaman budidaya yang utama, termasuk padi. Pemujaan terhadap Dewi Sri dewasa ini masih terus dilangsungkan oleh para petani di desa untuk mendapatkan hasil panen yang baik. Doa ditunjukan kepada tokoh Sri yang menjelma menjadi padi. Jikalau orang hendak menuai padi yang telah menguning, sebelumnya beberapa bulir padi dipungut dan dibentuk seperti dua orang (lambang sepasang pengantin) yang dipertemukan dan diarak pulang. Diharapkan nantinya sepasang pengantin padi akan mendatangkan panenyang baik. Petani akan mempersembahkan ikatan-ikatan padi pertama yang disimpan dengan hidmat sampai masa penebaran benih berikutnya.
Untuk menjaga keserasian kosmis antara kekuatan-kekuatan yang slaing berlawanan, di desa juga melakukan ritual kesuburan, yaitu agar menuasia dikarunia keturunan yang banyak. Ketakutan akan kekurangan anak sesungguhnya merupakan ciri arkais pedesaan Jawa yang berlangsung sangat lama. Hal itu merupakan warisan dari suatu masa lampau yang sangat jauh, ketika kekayaan ekonomis bukanlah berupa tanah atau uang melainkan tenaga kerja. Disaat itu manusia harus melawan hutan rimba dan membuat ladang berundak. Di dalam serambi Candi Mandut, yang terletak didekat Borobudur dan dibangun pada masa yang sama (kira-kira 800 M), Tampak dua relief yang indah yang menggambarkan Hariti dan Yaksa Atavaka, dua raksasa yang diajak sang Budha untuk memeluk agamanya dan dijadikan pelindung kesuburan.
Upacara yang dibicarakan diatas pada pokoknya adalah untuk menjaga keseimbangan antara desa dan makrokosmos, serta menghindari goncangan yang dapat mengakibatkan turunnya kesejahteraan materiil.
Salah satu upacara yang lain adalah kurban kerbau yang sejak dini diwarnai mitologi India. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat sejumlah patung Durga Mahisasuramardini, artinya Durga yang sedang membantai rakasa berwujud kerbau. Louis Charles Damais mengumakakan bahwa “batu kuburan” dalam bahasa Jawa disebut maesan, mungkin karena batu itu menggantikan tonggak kurban temapat penambatan kerbau (maesa) yang umumnya disembelih waktu pemakaman pada zaman pra Islam. Dewasa ini pun tidak ada gedung yang cukup besar yang dibangun tanpa penguburan kepala kerbau.
Upacara ini yang sangat penting adalah pagelaran wayang kulit. Bukti tertua tentang wayang kulit berasal dari abad ke-10, berupa prasasti Bali yang menyebut digelarkannya sebuah lakon kelahiran Bima (Bima bungkus) yang kadang-kadang masih dipertunjukan dewasa ini. Peran wiracarita-wiracarita India atas lakon-lakon wayang kulit besar sekali. Kebanyakan tokoh dan sejumlah besar lakon diambil dari Ramayana dan Mahabarata. Wayang hanya terdapat di Jawa dan daerah-daerah Nusantara yang tersentuh kebudayaan Jawa itu.
Para dalang adalah penggerak dunia gaib, dan dalam fungsi itulah mereka bersama rombongan niyaga-nya diundang ke desa-desa pada upacara-upacara besar. Dalang diundang pada saat terjadinya peristiwa yang dianggap dapat mengganggu keselarasan (rta: tata tertib kosmos) pada keluarga atau kelompok masyarakat seperti banjir, gagal panen, dan wabah penyakit yang menimpa manusia atau binatang. Di samping itu, dalang pun biasanya dipanggil untuk mengadakan pertunjukan dalam upacara ruwatan kelahiran anak kembar atau putera kelima, sunatan, dan perkawinan.
Selain upacara-upacara diatas masih ada upacara lain untuk memelihara keseimbangan kosmos. Di antara kultus-kultus yang hidup sampai sekarang terdapat beberapa kultus yang sekalipun tidak disebut dengan jelas dalam sumber-sumber pra Islam, dipastikan hanya berasal dari masa lampau. Salah satu bentuk pemujaan yang menarik adalah kultus terhadap Ratu Kidul yang menguasai Laut Selatan atau Samudra Hindia. Ratu Kidul konon tidak hanya menguasai ombak-ombak Samudra Selatan yang mengamuk, tetapi juga semua dedemit yang melanda dan mengancam kerajaan.[5]
Upacara perawatan dan penjamasan pusaka sebagai tanda kebesaran sudah dikenal sejak tahun 824 pada prasasti Karang Tengah yang menyebutkan kres (atau keris). Pemilikan alat kebesaran ini, sebagaimna pemilikan wahyu (ketiban andaru, yaitu sebuah cahaya kilat tanda kebesaran yang jatuh dari langit) adalah merupakan tanda keabsahan. Semua benda pasuka dipersonifikasikan dan diberi nama yang dihormati, yakni kiyai untuk laki-laki dan nyai untuk perempuan.
Penampilan kerucut-kerucut nasi dalam upacara keagamaan sebagai garebeg sudah terbukti ada sejak abad ke-9. Dalam prasasti yang dinamakan Prasasti Pintang Mas dari taun 878 M dan yang mungkin berasal dari daerah dieng, tertulis perintah kepada seseorang dyah Putu apa yang harus disajikannya pada para dewata....”dan bila tiba saatnya untuk pemujaan dewa (kapujan bhatara buat hyang) sekali setahun (pisan ing setahun) kau harus memberi penghormatan dewa Brahma (agawaya annalingga pamuja I bhatara Brahma) dengan kata anna yang berasal dari bahasa Sansekerta, artinya nasi dan makanan pada umumnya.
Garebeg adalah kelanjutan dari suatu ritual kuno di ibukota raja, dan berfungsi untuk memulihkan keterpaduan kerajaan. Pada kesempatan itu para wakil provinsi datang menghaturkan upeti dan rakyat bergembira ria. Ritual-ritualnya hampir sama dengan upacara yang lain, yang semuanya mengukuhkan homogenitas model Jawa yang orisinil. Upacara di ibukota raja dengan Sekaten di Alun-alun menjaga keserasian antara kerajaannya dan kosmos. Sementara itu, warga desa juga berusaha mencapai tujuan yang sama pada tingkat yang lebih sederhana.
Maka pada saat itu tempaklah raja melakukan miyos dalem (penampilan raja ke hadapan rakyatnya). Raja duduk diats tahta dikelilingi oleh anggota-anggota keraton dan pusaka yang sakti dan perhatiannya mengarah ke Tugu, sebuah monumen lingga yang terletak di bagian utara keraton yang melambungkan kesatuan manusia dan Tuhan. Kemampuan raja mencapai kesatuan dimanfaatkan untuk menegarkan keabsahan keraton. Pada kegiatan itu raja menyampaikan berkahnya untuk kesejahteraan masyarakat.
Bagian kedua dari pesta itu adalah arak-arakan sejumlah gunungan ke luar istana. Gunungan yang dibuat dari nasi dan bahan makanan lain merupakan lambang kesuburan sekaligus kelimpahan. Kerucut-kerucut besar yang diangkut di atas  usungan, untuk yang besar-besar diperlukan sekurang-kurangnya sepuluh orang, dibuat dalam keraton beberapa hari menjelang upacara. Yang paling tinggi dianggap lelaki (lanang) dan memang menyerupai lingga. Yang lebar dikatakan perempuan (wadon), dan yang terkecil dianggap anak-anak mereka, lalu dinamakan menurut bentuknya, yaitu darat, pawuhan, atau gepak.
Secara fisik dalam kegiatan garebeg tersebut beras dan bahan makanan merupakan persembahan kepada raja. Dan setelah diolah dan dimasak oleh para abdi dalem, dikembalikan dalam bentuk lain, yang penuh dengan berkah raja. Dengan demikian telah terjadi peralihan wujud dari yang mentah kepada yang masak, dari yang kasar kepada yang halus, dari yang alamiah ke yang beradab. Slametan adalah santap bersama yang bernilai ritual, yang diadakan pada petang hari di antara kaum lelaki. Mereka menikmati hidangan yang disajikan di atas lembaran daun pisang berupa nasi kuning yang diwarnai dengan kunyit, dan berbagai hidangan daging. Disini tujuannya adalah menjinakan roh, seperti: dedemit, lelembut, memedi, dan tuyul yang memang dianggap hadir dan menghirup bau harum hidangan. Bila mereka betul-betul sudah dijinakan, barulah manusia dapat “selamat”, seperti yang terdapat dalam kata selametan itu sendiri. Selametan yang paling adalah slametan bersih desa yang diadakan sekali setahun dan melibatkan semua warga lelaki. Mereka melakukan doa bersam di makam yang diyakini sebagai makam danyang desa, yaitu tokoh pendiri yang sekaligus menjadi roh pelindung masyarakat desa.
Santapan bersama itu merupakan ungkapan nyata semangat kolektif dikalangan penduduk desa dan diwarisi dari zaman kuno. Ketika kelompok harus bersatu mempertahankan kesatuan untuk membela diri terhadap keganasan hutan rimba.

IV.             SIMPULAN
Sejarah mencatat bahwa di Jawa pernah mengalami “mutasi pertama” atau lebih tepatnya disebut indianisasi. Setidaknya terdapat tiga pendapat mengenai persentuhan antara agama Hindhu-India terhadap Pulau Jawa, yaitu tentang asal mula Jawa yang diceritakan melalui legenda Ajisaka, penafsiran indianisasi dalam naskah Jawa abad 16 yang menjelaskan tentang asal mula Bhatara Guru (siva) yang pergi ke Gunung Dieng untuk bersemedi dan meminta kepada Brahma dan Wisnu supaya pulau Jawa diberi penghuni, dan sebagai kelanjutan dari teori mutasi perlu dicacat bahwa banyak nama tempat di pulau Jawa yang berasal dari bahasa Sanskerta.
Masyarakat Jawa mempunyai toleransi keagamaan yang sangat besar. Mereka menganggap sepadan antara Budha dan para Jiuna lainnya dengan Siwa dan para dewa lain. Pada masa sebelum Hindhu-Budha, penduduk Jawa memuja arwah dan tempat-tempat yang dianggap keramat. Namun semenjak datangnya Hindu Budha di Jawa, mereka melakukan penyembahan kepada dewa berupa upacara tradisi yang ditujukan untuk mendapatkan kesejahteraan dari para dewa. Dan pada masa ini, kehidupan masyarakatnya memandang perbedaan kasta antara kaum priyai, penguasa, dan rakyat biasa.

V.                PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami susun dan tentunya jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.



[1] Darori  Amin,  Islam dan Kebudayaan Jawa, ( Yogjakarta: Gama Media:2000 ). Hlm. 10-12
[2] Mukhlis Paeni, Sejarah Kebudayaa Indonesia. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009). Hlm: 36
[3] Shodiq,                Potret Islam Jawa, (Semarang: Pustaka Zaman, 2002). Hlm. 16
[4] Darori  Amin,  Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogjakarta: Gama Media.2000 ). Hlm. 13-14
[5] Darori  Amin,  Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogjakarta: Gama Media.2000 ). Hlm. 14-20