Minggu, 22 Desember 2013

review

Review: Negara Vs Kaum Miskin
Oleh: Dina Fitriyani
(123911042)
Judul Buku                   : Negara vs Kaum Miskin
Pengarang                    : Ahmad Erani Yustika
Penerbit                        : Pustaka Pelajar
Kota terbit                    : Yogyakarta
Tahun Terbit                 : 2003
Jumlah Halaman           : 175
ISBN                           : 979-3477-31-8

A.     Isi Buku
Pada bab pertama, buku ini dibagi menjadi beberapa sub bab, yaitu yang pertama adalah Filsafat Politik : Keadilan Sosial yang berisikan tentang pentingnya keadilan sosial sebagai salah satu filsafah negara  dalam membangun sebuah keutuhan yang didasari oleh beragam kultur, adat, agama, ras, dan etnis yang beragam dari masyarakatnya. Dalam sub bab ini pula dijelaskan perkara keseimbangan negara dan rakyat juga termasuk dalam filsafat politik. Dalam traktat tradisional, dipersyaratkan bahwa kedudukan negara dan rakyat harus  dalam posisi yang seimbang sehingga negara tidak menjadi bandit yang menawan rakyat, atau sebaliknya rakyat tidak berlaku sebagai kerumunan semut yang sanggup menggeser tiang-tiang negara. Disini dijelaskan bahwa peran sistem politik demokrasi sangat penting untuk menyatukan antara negara dan rakyatnya untuk meraih cita-cita negara.
Sub bab yang kedua adalah Kebijakan Publik : pemerintah yang Kapabel. Disini menjelaskan tentang isu-isu yang terjadi di masyarakat dan bagaimana cara sebuah kebijakan-kebijakan public bisa dikontrol oleh si pembuat kebijakan. Juga dikemukakan tentang beberapa kebijakan pemerintah yang tidak terealisasi dalam pelaksanaanmnya, diantaranya yaitu negara sejak puluhan tahun lalu telah mengobral lisensi sector kehutanan kepada orang-orang yang mau mengekplorasi kekayaan hutan melalui program HPH ( Hak Pengeluaran Hutan ). Namun setelah kebijakan berjalan beberapa lama, kebeijakan tersebut mendapat pertentangan hebat dari masyarakat karena terdapat penyimpangan-penyimpangan di dalamnya. Jika dilihat dengan deficit neraca sosial pembangunan, negara Indonesia bisa dikatakan sebagai “negara kanibal” yang memangsa daging rakyatnya sendiri, melihat banyaknya kasus korupsi yang terjadi di hampir seluruh lini birokrasi pemerintahan.
Pada bab kedua membahas tentang Negara dan Petani. Disini dipaparkan tentang adanya kegiatan-kegiatan ekonomi yang dilakukan dalam sector pertanian melalui bagan-bagan hasil riset sang penulis. Diuraikannya adanya permasalahan-permasalahan yang pelik di kalangan para petani. Dijelaskan juga bahwa kondidi petani sangat kritis (sekarat), hal ini dikarenakan masalah-masalah serius yang menggelayut di sector pertanian semakin mnumpuk, diantaranya yaitu kepemilikan lahan yang kian mengecil, asks terhadap input yang semakin mahal, biaya transaksi yang terus melambung, dan kelembagaan ekonomi yang tidak berpihak kepada petani.
Menyangkut kelembagaan di sector pertanian yang menempatkan petani sebagai pihak yang selalu dikalahkan. Dalam relasi antara petani penggarap (tenanat) dan pemilik lahan (landloard) misalnya, seringkali asistem bagi hasil yang disepakati lebih banyak menguntungkan sang pemilik lahan. Dalam hal ini petani tidak bisa berbuat banyak dengan kesepakatan tersebut karena pilihan yang dimiliki sangat terbatas. Jika dia tidak bersedia dengan sistem bagi hasil itu, maka pilihannya adalah menganggur. Sedangkan dalam sistem sewa lahan, petani penyewa juga tidak dalam posisi yang menguntungkan akibat ketidakpastian panen dan harga jual produk pertaniannya. Bila harga anjlok, bisa dipastikan petani akan rugi besar, karena mereka tetap harus membayar sewa lahan dan ditambah kerugian akibat gagal panen.
Ilustrasi tersebut segera menyembulkan persoalan genting yang terjadi di sector pertanian, yakni kebijakan pemerintah yang mengabaikan sektor tersebutdan tingkat kesejahteraan petani terus merosot. Terdapat tiga alasan yang menyebabkan pemerintah kelihatan enggan mengambil prakarsa bagi peningkatan kesejahteraan petani, yaitu pertama,  masalah fiscal. Pemerintah merasa sulit untuk mengambil pajak. Kedua, secara politik masyarakat kota lebih berpendidikan dan dekat dengan pusat pengambilan keputusan sehingga mampu menggagalkan rencana transfer pajak. Ketiga, sektor industry perkotaan juga memperkejakan buruh tidak trampil, sehingga jika dipajaki akan menguntungkan pihak perusahaan.
Hubungan antara negara dan petani bukan hanya didominasi oleh fakta kebijakan yang hampir selalu tidak mengenakkan petani, tetapi juga ditingkahi oleh beragam upaya represi negara dan perlawanan sengit yang diberikan petani terhadap kebujakan yang merugikan. Secara lebih detail, penyebab konflik antara negara dan petani tersebut sebenarnya beragam, tetapi yang paling banyak berupa sengketa tanah.
Pada bab ketiga menjelaskan tentan Negara dan Buruh. Disini dipaparkan tentang keadaan buruh di Indonesia. Selain jitu juga dipaparkan mengenai konflik-konflik sosial yang dihadapi oleh para buruh selama kerja. Terdpat tiga hal penting yang dikemukakan penulis mengenai pendapat bahwa buruh tidak memetik hasil yang memadai dari pembangunan ekonomi yang dikerjakan selama sekian puluh tahun ini, yaitu pertama, upah di Indonesia sangat rendah secara absolut, tidak sesuai dengan hasil kerja yang dilakukan. Kedua,tingkat upah tidak hanya rendah secara absolut, tetapi juga belum banyak berubah secara riil selama 20-50 tahun. Ketiga, ada pendapat bahwa jurang antara tingkat hidup buruh dan kalangan menengah dan atas makin melebar.
Kasus yang terjadi pada zaman kapitalisme saat ini barangkali merupakan contoh bahwa setiap unit produksi selalu memakai faktor produksi modal, tanah, dan tenaga kerja. Subsistensi  upah buruh bukanlah terjadi semata pertimbangan asimetri antara kekuatan pemilik modal dan pekerja, melainkan negara terlibat dalam proses tersebut dengan cara upah dibikin terus kecil agar upeti yang disetor oleh pemilik modal terhadap negara tidak mengalami pengerutan, disamping agar angka investasi terus meroket.
Dalam bab ini, penulis mengemukakan bahwa negara tidak melakukan pemihakan terhadap buruh jika berhadapan dengan pemodl yang berkuasa. Negara dengan sadar menetapkan kebijakan upah minimum yang sangat tidak layak bagi buruh untuk sekedar bertahan hidup.
Pada bab keempat membahas tentang Negara dan Nelayan. Disini dijelaskan bahwa negara telah dengan sengaja mengabaikan sektor perikanan/perairan/perikanan sebagai basis ekonomi nasional, negara juga membiarkan sebagian sumberdaya perikanan diserobot dan dikeruk oleh nelayan asing, dan karena kealpaan negara untuk mengurusi masyarakat nelayan, sebagian besar nelayan di Indonesia hidup miskin.
Pada bab kelima membahas tentang Negara dan Sektor Informal yang mencakup upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, diantaranya dengan cara menempuh strategi industralisasi dan urbanisasi prematur. Namun dalam pelaksanaanya pun tak luput dari kendala-kendala internal maupun eksternal, diantaranya yaitu terjadi gejolak sosial dalam masyarakat, bahkan terjadi penggusuran.
Pada bab keenam membahas tentang Negara dan Usaha Kecil. Di bab ini dipaparkan mengenai konsep dan strategi pembangunan ekonomi yang baru untuk meningkatkan taraf ekonomi rakyat kecil melalui UKM (Usaha Kecil Menengah). Disini juga dijelaskan tentang upaya-upaya untuk mengembangkan usaha-usaha kecil yang telah dilakukan rakyat menengah.
Pada bab terakhir membahas tentang Etika Pembangunan dan Tiga Level Kebijakan yang merupakan proses identifikasi dari nilai-nilai dasar pada filsafat politik pada bab pertama. Selain itu juga memaparkan penyelesaian atas masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat.

B.     Penilaian
Buku ini merupakan buku yang sangat menarik untuk dibaca, di dalamnya menampilkan masalah-masalah riil yang terjadi dalam masyarakat Indonesia yang diteliti langsung oleh penulis. Dalam pemilihan judulpun saya kira sudah sesuai dengan kandungan isi dan mampu menarik orang untuk membacanya. Selain itu penyajian data ditampilkan dalam bentuk tabel maupun bagan sehingga mudah untuk dipahami. Pada sampul belakang tedapat kutipan puisi karya Wiji Thuku (2000:6) yang berjudul Nyanyian Akar Rumput yang diksinya sangat luar biasa dan penuh makna sehingga menambah daya tarik bagi pembaca.

C.     Kesimpulan
Secara keseluruhan buku ini membahas tentang perjalanan penulis dalam penelitian terhadap masalah-masalah sosial ekonomi masyarakat miskin. Yang dimaksud masyarakat miskin disini adalah komunitas petani, buruh, nelayan, sektor informal, dan pelaku usaha kecil, karena kelima komunitas tersebut merupakan penyangga stabilitas sosial ekonomi dan sekaligus mewakili mayoritas penduduk Indonesia , tetapi secara sistematis mata pencahariannya justru dimatikan oleh negara.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar