Tampilkan postingan dengan label kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisahku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2018

Delusion at the sea

Say to the sea everythings you see.

About the waves, the wind, and the motion of the water that did not stop giving the story.

Laut dan pantai tak pernah kehilangan pesona indahnya.
Ombak bergulung, berdesir,  bergejolak menabrak karang.
Angin semilir.
Membelai lembut rambut tergerai.
Air seolah mengajak menari.
Menarik lembut menyibak kaki.

Di tepi pantai itu,  kau datang memberi senyuman.
Menawariku akan masa depan.
Katamu kau tak mau menjanjikan kebahagiaan.
Kau hanya bilang ingin menghapus kesedihan.
Mengajakku membangun cerita.
Memelukku kala luka.

Pada tajam tatapmu
Ku temukan teduh
Kesungguhan akan kasihmu.
Aku luruh.

Kamis, 17 Mei 2018

Tentang Kita

Tentang jarak,
Kita hanya butuh saling memahami
Aku memahami lelahmu
Dan kau memahami rinduku
Usah bicara waktu

Tentang jarak,
Kita jauh
Tak bersentuh
Tak bertatap
Hati kita yang bertaut, kuat

Tentang jarak,
Hanya doa
Percaya dan harapan
Kita pupuk rasa
Menyemai asa bersama

Selasa, 23 April 2013

Kalo Rezeki nggak Kemana


Kalo Rezeki nggak Kemana

Soal rezeki memang sudah ada yang ngatur. Ibarat kata “kalau jodoh, nggak kemana”, begitupun rezeki. Allah Maha Mengetahui kok, jadi nggak perlu ribet dalam urusan rezeki, apalagi bersangkutan dengan money. Memang sih rezeki itu perlu dicari dan diusahakan, tapi tak perlu ngoyo mendapatkannya. Hidup memang butuh uang, tapi itu bukan segalanya.
Aku adalah gadis yang sulit untuk optimis, selalu ada ketakutan dan kekhawatiran untuk melakukan segala hal. aku takut menemukan sebuah kegagalan, yang mana telah ku ketahui bahwa kegagalan merupakan proses menuju keberhasilan. Lain dari itu, aku adalah seorang yang punya kemauan keras, mempunyai semangat tinggi untuk mencapai hal yang ku ingini, sayangnya aku juga orang yang ragu untuk mengatakan “aku bisa”, aku pesimis dan takut mencoba, karena kata “gagal” telah terlebih dahulu memblokade otakku sehingga terlalu berat melakukan hal yang aku inginkan. Namun, suatu saat aku ingin merubah kata “bisa nggak ya??” menjadi “pasti bisa!” dalam kamus hidupku, dan itu harus!.
Teringat saat aku iseng lomba menulis. Bukan iseng sih, pada dasarnya aku memang doyan nulis, tapi tak ada keberanian untuk mempublikasikan ke orang lain, apa lagi diikut-sertakan dalam ajang lomba, ciut nyalinya. Namun, si kakak selalu memberi arahan dan motivasi agar aku terus maju dan berkembang,” rugi bila punya bakat hanya dibuat sebatas hobi, harus bisa memanfaatkan”, begitu katanya. Akupun berpikir demikian, selain bisa menghasilkan, pasti punya kebanggaan tersendiri jika karya kita bisa dinikmati banyak orang, lebih-lebih bisa dimanfaatkan dalam kebaikan. Tapi masalahnya, bagaimana aku memulai misi mengekspose kan karyaku dan sekaligus menghasilkan keuntungan bagiku??
Akhirnya, pada suatu hari, si kakak ngasih info tentang lomba menulis di internet. Hadiahnya lumayanlah buat uang jajan.  Awalnya aku ragu, tapi setelah berfikir-fikir, taka da salahnya untuk mencoba. Akupun bersemangat membuat karya. Yang terlintas dalam benakku adalah puisi, karena itu lebih simple menurutku.
Pada saat menanti kedatangan dosen saat kuliah malam, aku iseng;iseng coret-coret kertas, inspirasi datang tanpa diundang, langsung ku tuangkan rasa dalam kata, dan tak berapa lama beberapa bait puisi pun berhasil tercipta. Setelah membaca ulang hasil karyaku, aku minta Ika, teman sekelasku, untuk memberi penilaian terhadap puisiku. Katanya sih diksinya bagus, tapi dia kesulitan dalam memahami isinya. It’s ok,, thanks for your comment my friend,, J
Sepulang dari kuliah malam, aku langsung duduk di depan laptop dan mengetik puisiku. Setelah itu, ku tunjukkan puisiku kepada kakakku lewat jejaring sosial facebook. Dan setelah dipertimbangkan oleh sang kakak, akhirnya puisi itu yang berjudul “Kura-kura Kupu-kupu” disepakati olehku dn kakak untuk diikutsertakan dalam perlombaan. Was-was banget rasanya, karena itu merupakan kali pertama aku mengikuti ajang lomba seperti itu. Segala pikiran-pikiran akan prediksi keburukan terus membayang-bayangi otak, terutama kata gagal dan kalah. Namun ku coba menepis segala kebimbangan, ku yakinkan diri bahwa itu adalah ajang lomba, kalah menang sudah jadi hal yang biasa, yang penting adalah pengalamannya.
Pemenang lomba ditentukan dari banyaknya komentar yang didapat dari karya masing-masing peserta yang telah dipublikasikan dalam blog si penyelenggara lomba. Hal itu membuatku sedikit tak percaya diri. aku juga sedikit kebingungan saat mempromosikan puisiku ke orang lain agar bersukarela untuk mengomentarinya. Akhirnya aku mencoba mempromosikannya lewat facebook. Setiap orang ku kirimi pesan yang berisikan permwohonan pertolongan agar bersedia mengomentari puisiku, dari teman dekat sampai yang tak pernah ku kenal. Sungkan rasanya melakukan hal semacam itu, tapi tak apalah, namanya juga usaha. Banyak reaksi yang ku dapatkan dari pengiklanan tersebut, ada yang langsung bersedia mengomentari, ada yang mohon maaf karena tak bisa membantu, dan ada juga yang diam tanpa respon. Dan semua itu ku maklumi adanya.
Sebulan pun sudah berlalu,namun komentarpun masih sedikit ku dapati. Aku mulai pesimis. Namun sang kakak selalu ada untuk memberi semangat an menumbuhkan rasa optimis percaya diri. Akupun tak mau mengecewakannya. Ku coba merakit kembali semangatku, dan bangkit lagi untuk maraih impianku. Ku coba lagi mengiklankan puisiku, dengan sedikit menghilangkan rasa sungkan dan malu. Ku benar-benar memohon kepada para sahabat-sahabatku di facebook agar bersedia ikut serta dalam perlombaanku. Dan akhirnya komentarpun semakin bertambah. Alhamdulillah….
Waktu penentuan sudah terlewatkan, tetapi masih saja belum ada pengumuman pemenang. Berulang kali pemilik blog mengkonfirmasi bahwa pengumuman ditunda, hal itu membuat geram para peserta lomba. Banyak kritikan yang dilontaran kepada si penyelenggara lomba, tapi masih tetap saja taka da balasnya. Akupun mulai beranggapan bahwa lomba tak benar-benar ada, mungkin si pemilik blog hanya ingin menaikkan rating blognya dengan cara pura-pura mengadakan lomba. Seiring berjalannya waktu, akupun mulai melupakan lomba itu. Ku anggap lomba itu tak benar adanya, ku buang semua pengharapan yang mungkin sia-sia.
Suatu hari aku pergi jalan-jalan bersama teman-teman ke sebuah pusat perbelanjaan, saking asyiknya menikmati pemandangan ribuan baju yang terpajang, aku tak sadar salah satu benda berhargaku telah hilang, handphone. Panik dan cemas tentu saja ada, tapi kesedihan tak boleh bertahta terlalu lama, ku ikhlaskan hilangnya hpku dan berpositif thinking dengan apa yang terjadi padaku. Mungkin itu peringatan dari Allah untukku dan teman-teman yang lain untuk lebih berhati-hati dan waspada dalam segala hal, khususnya menyimpan barang berharga. Paling tidak kejadian hilangnya hpku bisa bermanfaat bagi orang lain jika mau belajar dari pengalamanku.
10 April adalah tanggal dimana aku dilahirkan bundaku, dan pada tahun 2013 ini usiaku genap 19 tahun. Ku ingin berbagi di hari special ini, tapi uang dikantong tak memungkinkan untuk melakukan niatku, tapi tak apalah, berbagi dan bersedekah tak akan membuat seseorang menjadi miskin dan kekurangan, setidaknya itu yang ku dapat setelah membaca bukunya Yusuf Mansur. Dengan keterbatasan dana yang ada, ku ajak teman sekamarku makan mie ayam di sore hari ultahku. Meski tak mewah dan tak seberapa, paling tidak aku masih bisa berbagi di hari bersejarahku itu. Alhamdulillah….
3 hari setelah hari ulang tahunku, aku terkejut ketika membaca sebuah pesan yang mengatasnamakan penyelenggara lomba menulis yang pernah aku ikuti. Isi pesan singkatnya mengatakan bahwa aku harus mengirim nomor rekening karena aku menang lomba. Setengah kaget dan tak percaya, langsung ku buka website lombanya dan ternyata benar, puisiku menjadi pemenang pertama dengan jumlah 135 komentar. Alhamdulillah… terimakasih Ya Rabb… rezeki emang nggak kemana. Rp. 500.000,00 cukup berarti dari hasil lomba pertamaku, J

Selasa, 15 Januari 2013

27 November 2010

Satu nama, satu kata, dan satu makna.....

Tak mampu terurai, tak sanggup terangkai, dan tak dapat terberai.

Aku hanyalah aku yang akan tetap jadi diriku.

Mencoba bertahan di atas belenggu.

Tak melawan arus atas nasibku.

Ku rasa sepi dan sunyi meski ku tau ku tak sendiri.

Minggu, 13 Januari 2013

12 juli 2010



            Ku tak mau terus menyakiti hatiku, tapi dengan apa aku bisa bahagiakan dan tenangkan pikiran ini?
Haruskah ku menjauh dan membuang rasaku untukmu agar aku mampu sembuhkan lukaku??
Jika itu memang jalannya, sanggupkah aku tuk jauh darimu??  Sanggupkah aku tuk pergi darimu jika ku terbiasa bersamamu??
Sepercik kata telah terucap, tak mungkin lagi kan kembali seolah tak ada apa-apa. Sejumlah kata telah ku layangkan padamu, bukan untuk menyakitimu, tapi hanya sebatas penyampaian unek-unekku padamu.  Ku harap kau bisa mengerti apa yang ku pinta, semoga kau tau apa yang ku rasa.
Aku juga manusia biasa sepertimu, juga bisa merasakan sakit dalam hatiku. Ku bukan patung yang tak bisa bereaksi saat tersakiti, akupun punya hati yang selalu ingin dicintai.
Apakah sejenakpun kau tak pernah berfikir tentang hatiku?? Sungguhkah memang tak berharga diriku bagimu??


andai aku punya kesempatan tuk mengisi
dan berarti di hatimu,
kan ku jaga hatimu sekuat hatiku,
agar cintamu tak pernah pergi dari hidupku.
Tak kan ku buat kecewamu, dan
akan ku ukir kisah-kisah indah dalam hidupmu. 

11 Juli 2010



Terhanyut pada nyanyian malam, begitu tenang begitu lengang. Sejenak ku tertegun, menikmati dan merenungi indahnya ciptaan Yang Maha Pencipta.
Hatiku tenang meski pikiranku melayang. Akankah selamanya ku kan menikmati kuasa Tuhan?? “tiada yang abadi di dunia ini”. Tertulis kata yang terlitas tanpa suara.
Entah sampai kapan aku bisa menapakkan kaki di dunia yang fana ini, tiada yang yang mampu menjawab kecuali ILLAHI ROBBY.


Cintaku padaMu bukan cinta yang sederhana,
tiada kata yang mampu menguraikannya,
tiada rasa yang mampu melukiskannya.
Karna cintaku ini tulus adanya,
Karna cintaku ini mutlaq adanya,
dan semoga cintaku ini tiada pernah ada akhirnya.
Cintaku,,,,,,,,,
Hanya Engkaulah Tuhan Yang Maha Satu.

7 juli 2010

          Ku putuskan tuk menyudahi kisahku, bukan kisah tntang kehidupanku, namun kisah antara aku dan penantianku. Ku sadar ku berdiri di tempat yang salah, ku mungkin telah  menjadi angin yang bisa menerbangkan daun dari pohonnya, tapi aku tak ingin menghncurkan dan mematikan sang pohon karena kehilangan daunnya. Aku ingin menjadi hujan. Hujan yang bisa menjadi sahabat bagi mereka, bukan hujan yang dapat hanyutkan mereka. Aku ingin jadi hujan yang bisa suburkan sang pohon, sehingga daun-daun akan tumbuh melebat, dan mungkin bunga-bunga akan semi bermekaran.
            Berkorban sedikit demi kebahagiaan sahabat. Meskipun sakit, mungkin takkan begitu terasa jika ku mampu ikhlas dan enjoy menjalaninya. Ku sadar ku salah karena ku berada di antara cinta mereka, dan kini saatnya ku harus beranjak dan melangkah dari kehidupan mereka. Takkan pernah ku menyesalinya, sebuah rasa yang terukir indah dalam hatiku. Kan ku simpan dan ku kunci rapat dalam memory dalam jiwaku. Kan selalu terkenang dan takkan terlupakan.
            Terima kasih Ya Rabb,,,, Kau telah tunjukkan setitik kebahagiaan dalam hidupku. Terima kasih atas warna-warna indah yang Kau ciptakan di kehidupanku ketika ku mengenal dirinya. Tak kan ku lupa masa-masa indah yang kan jadi kenangan-kenangan manis di masa mendatang. Terima kasih Tuhan,,, terima kasih karna Kau pertemukanku dengan dirinya. Dialah “mimpi yang tiada pernah ku dapati”.


Ketika cinta telah merasukiku,
hilang semua beban di hidupku,
semua kata akan ku rangkai,
hingga habis puisi dalam hati.
Ku memang tak mampu ucapkan cinta,
namun aku mudah menuliskannya,
tak pernah berani mengungkapkannya,
hanya mampu tuk memendam rasa.
Meski kau takkan ku miliki,
cinta ini kan tetap tertanam di hati.